Perspektif Alam Semesta

Creative_Wallpaper_Universal_soul_035165_
http://www.zastavki.com/pictures/1920×1200/2012/Creative_Wallpaper_Universal_soul_035165_.jpg

Sebagai manusia seringkali kita melihat dunia ini dalam perspektif manusia. Beberapa ajaran agama dan kultur pun terlalu berpusat pada manusia. Manusia sebagai makhluk paling sempurna di dunia berhak menguasai alam, di mana alam yang walaupun diciptakan terlebih dahulu sebelum manusia, diserahkan oleh Tuhan untuk kepentingan manusia. Segala perkembangan teknologi pun dirancang sedemikian rupa untuk berdaya guna bagi manusia. Selama dalam proses spesies manusia lebih diuntungkan, proses itu selalu dibenarkan secara moral. Oleh karena itu, berbagai kepunahan hewan dan tumbuhan terjadi demi keberlangsungan hidup spesies manusia. Manusia ingin mengambil peran terbesar dalam semesta dan menjadi pusat alam semesta.

Namun, benarkah bahwa manusia adalah subjek dan pemeran utama dalam alam semesta? Apakah kita menyadari bahwa manusia hanyalah sebesar bakteri di alam semesta yang sangat besar ini? Bila begitu, mampukah kita sebagai manusia benar-benar menundukkan alam dan mengolahnya? Tulisan ini akan secara perlahan membawa kita melampaui perspektif manusia dalam melihat alam semesta menuju ke perspektif alam semesta sendiri.

Continue reading “Perspektif Alam Semesta”

Advertisements

Perjalanan Hari Ini: Kelahiran dan Kematianku

The_ABCs_of_Death_dark_horror_grim_reaper_death_babies_children_books_demon_fantasy_art_cg_digital_1680x1050 (1)
http://www.wallpaperup.com/34277/The_ABCs_of_Death_dark_horror_grim_reaper_death_babies_children_books_demon_fantasy_art_cg_digital.html

Hari ini adalah hari kelahiranku,namun inilah hari kematianku pula.Ya begitulah teman. Saat aku baru menghirup nafas di awal kehidupanku,saat itu pulalah aku mengakhirinya. Dapat kudengar tangisan kedua orang tuaku setelah mengetahui bahwa bayi yang didamba-dambakan mereka selama bertahun-tahun tidak dapat memulai kehidupannya di dunia.

Kurasakan rohku melayang dan aku pun bertanya kepada Tuhan,”Mengapa aku tidak boleh merasakan indahnya dunia?”. Tapi tidak kudengar jawaban dari Tuhan. Berhari-hari jiwaku melayang menunggu jawaban Tuhan namun tetap tidak ada jawabnya. Aku pun bingung mengapa rohku belum dipanggilnya di alam sana. Daripada bosan berdiam menunggu di sini,aku pun memutuskan untuk melihat-lihat dunia meskipun tidak ada yang dapat aku berikan kepada dunia. Continue reading “Perjalanan Hari Ini: Kelahiran dan Kematianku”

“Ke manakah Semua Ini Berujung?” -Lagu-

Malam ini kumerenung

Apakah arti hidupku ini?

Mungkinkah aku arungi?

Atau samudra tiada akhir?

Melihat mereka yang pergi

Mungkinkah akan hidup kembali

Di dunia yang tak mungkin terjangkau

Oleh tubuh fana ini?

Mungkinkah kutemukan

Hidup abadi tanpa air mata?

Ataukah itu hanya 

dongeng penenang untuk kami yang takut Kebenaran?

20150612_145225

Jogjakarta, 02 Mei 2015, 18:36

Aachen, 12 Juni 2015

Coretan Pertama: “Tentang Penjaring Angin”

spiral-the-great-circle-of-life-from-sacred-of-geometrys-facebook-page-946305_541235905913355_1464670498_n
http://ginadianneharding.com/wp-content/uploads/2013/09/spiral-the-great-circle-of-life-from-sacred-of-geometrys-facebook-page-946305_541235905913355_1464670498_n.jpg

Kita adalah Penjaring Angin karena segala sesuatu dan usaha kita adalah sia-sia.

Orang kaya berlari dan orang miskin merayap menuju tempat yang sama. Begitu pun mereka yang malas dan rajin.

Aku berusaha keras untuk dia dan dia hanya bersantai membuka telapaknya ke atas. Ternyata apa yang didapat pun sama saja. Semua bermuara ke tempat yang sama.

Kekayaan, hikmat pengetahuan, dan apapun yang telah kukejar dan kukumpulkan pada akhirnya diberikan kepada mereka yang tidak pernah berupaya mendapatkannya.

Si Bijak mengembara dengan berbagai pertimbangan matang dan Si Bodoh lupa bahwa ia dalam pengembaraan. Tak ada yang menyadari bahwa pengembaraan itu hanyalah sia-sia dan usaha menjaring angin.

Ketika berada di ujung, hanya kematianlah yang dapat kita tuju.

Sang Penjaring Angin tak ingin menerimanya dan berusaha mencari tujuan akhir lain. Mungkinkah akan ditemukan ending yang berbeda? Ataukah memang tak ada ujungnya?

Kita menangis saat lahir, namun orang sekitar menyambut dengan senyuman. Kita tersenyum saat mati, namun orang sekitar melepas dengan tangisan. Semua hanya berputar.

Saat gunung merapi meletus kematian melanda, namun itulah cikal bakal kehidupan. Pernahkah kita anggap bahwa Sang Gunung itu jahat? Semua hanya berputar.

Kebaikan pun bersembunyi saat kejahatan tak kunjung muncul. Tak pernah dikatakan sehat bila memang sakit itu tidak ada sebagai perbandingan. Adakah akhir di sana, bila awal pun tak menunjukkan batang hidungnya? Semua hanya berputar.

Saat kusadari bahwa perputaran tak berujung, aku pun takut. Belum siapkah aku menerima Kebenaran?

Kegelisahan muncul. Pikiran yang dirombak semakin terombang-ambingkan.

Adakah makna di balik semua ini? Ataukah memang proses merupakan makna?

Mereka menempuh pendidikan untuk ijazah (bukan ilmu?). Namun bukan ijazahlah yang dituju.

Ijazah dipakai untuk mencari pekerjaan bergengsi. Namun bukan pekerjaanlah yang dituju.

Pekerjaan digunakan untuk mendapatkan uang. Namun bukan uanglah yang dituju.

Uang itu terpakai untuk membeli makanan. Namun semua tetap saja tidak berhenti pada makanan.

Makanan digunakan untuk hidup. Namun apa arti hidup itu bila pada ujungnya kematianlah yang menanti?

Apakah kematian merupakan tujuan hidup akhir Sang Penjaring Angin?

Seperti biji yang harus mati dahulu baru menghasilkan buah yang berlimpah. Begitu pun di balik kematian ada harapan akan kehidupan.

Mungkinkah ada kehidupan abadi yang bahagia setelah kematian? Ataukah itu hanya dongeng penenang bagi Sang Penjaring Angin yang tak berdaya di depan Sang Kebenaran?

Satu hal saja yang disyukuri dan diimani Sang Penjaring Angin.

“Kemampuan menyadari dan menikmati saat ini adalah sebuah berkat.”

Sarijadi, 27 Mei 2015

08:47