Kebenaran yang Bersembunyi

http://99px.ru/sstorage/53/2015/07/tmb_137151_1339.jpg
http://99px.ru/sstorage/53/2015/07/tmb_137151_1339.jpg

*Disclaimer: tulisan ini berisi interpretasi dari ide-ide para pemikir yang memang sengaja tidak saya sebutkan.

Pada suatu ketika lahirlah seorang bayi manusia di bumi. Sang bayi menggunakan pikiran dan panca inderanya untuk menginterpretasi dunia sekitarnya. Ia mulai mengembara untuk mencari sebuah kebenaran. Sebuah kebenaran yang diyakini akan ditemukan bila sang bayi mencarinya. Sebuah kebenaran yang dibutuhkannya agar hidupnya tenang dan bahagia.

Masa Kanak-Kanak dan Kebenaran Agama

Sang bayi bertumbuh menjadi balita di sebuah keluarga yang taat beragama. Sang balita meyakini bahwa agamanyalah yang memberikan jawaban menyeluruh atas pertanyaannya mengenai kehidupan. Ketika itu ia masih tinggal di dalam rumahnya, sehingga satu-satunya kebenaran yang dia kenal hanyalah ajaran agama dari keluarganya.

Ia begitu keranjingan membaca kitab sucinya dan bersemangat dalam melakukan ritual-ritual keagamaannya karena ia tahu bahwa hal itulah yang secara pasti dapat membawa dia ke dalam kebahagiaan sejati, yaitu kebahagiaan di Surga ketika dia mati nanti. Segala aktivitas kecil sehari-hari seperti cara menggosok gigi, cara tidur, cara berbicara, cara berpakaian, hingga cara buang air besar ia cocokkan dengan ajaran agamanya. Semakin detail aturan-aturan agamanya, maka semakin senang ia melakukannya. Terdapat sebuah kepuasan ketika semua tingkah lakunya dan fenomena sekitarnya begitu sangat detail dirumuskan oleh agamanya. Continue reading “Kebenaran yang Bersembunyi”

Perspektif Alam Semesta

Creative_Wallpaper_Universal_soul_035165_
http://www.zastavki.com/pictures/1920×1200/2012/Creative_Wallpaper_Universal_soul_035165_.jpg

Sebagai manusia seringkali kita melihat dunia ini dalam perspektif manusia. Beberapa ajaran agama dan kultur pun terlalu berpusat pada manusia. Manusia sebagai makhluk paling sempurna di dunia berhak menguasai alam, di mana alam yang walaupun diciptakan terlebih dahulu sebelum manusia, diserahkan oleh Tuhan untuk kepentingan manusia. Segala perkembangan teknologi pun dirancang sedemikian rupa untuk berdaya guna bagi manusia. Selama dalam proses spesies manusia lebih diuntungkan, proses itu selalu dibenarkan secara moral. Oleh karena itu, berbagai kepunahan hewan dan tumbuhan terjadi demi keberlangsungan hidup spesies manusia. Manusia ingin mengambil peran terbesar dalam semesta dan menjadi pusat alam semesta.

Namun, benarkah bahwa manusia adalah subjek dan pemeran utama dalam alam semesta? Apakah kita menyadari bahwa manusia hanyalah sebesar bakteri di alam semesta yang sangat besar ini? Bila begitu, mampukah kita sebagai manusia benar-benar menundukkan alam dan mengolahnya? Tulisan ini akan secara perlahan membawa kita melampaui perspektif manusia dalam melihat alam semesta menuju ke perspektif alam semesta sendiri.

Continue reading “Perspektif Alam Semesta”

Kebebasan Berpikir dan Perubahan

consciousness-011
http://kingofwallpapers.com/consciousness/consciousness-011.jpg

Akhir-akhir ini begitu banyak kejadian di Indonesia yang membuat saya merenungi apakah sifat alami dari dunia ini. Banyak orang bertengkar karena perbedaan perspektif dalam beragama, terutama antara kaum konservatif dan kaum progresif.

Kaum konservatif vs Kaum progresif

Kaum konservatif merasa bahwa suatu kebenaran adalah abadi dan tidak dapat berubah. Mereka ini dianggap sebagai kaum yang terikat oleh dogma-dogma dan tidak berpikir bebas.  Di sisi lain, kaum progresif  merasa bahwa kebenaran itu dapat berubah-ubah, disesuaikan seiring perkembangan zaman. Kebebasan berpikir adalah poin utama yang mereka perjuangkan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah benarkah bahwa kebenaran itu tidak dapat berubah seperti yang dikatakan kaum konservatif? Lalu, apakah kebebasan berpikir hanya dimiliki oleh sebagian orang yang dianggap sebagai kaum progresif?

Bila melihat sejarah perkembangan agama, saya berani menyimpulkan bahwa setiap kemunculan agama baru adalah hasil dari kebebasan berpikir, meskipun agama itu dianggap sebagai agama yang sangat konservatif. Setiap orang yang mempelopori suatu agama baru menggunakan kebebasan berpikir. Continue reading “Kebebasan Berpikir dan Perubahan”

Dunia Apa Adanya

untitled
http://www.keblasuk.com/tree-of-life-wallpaper-full-hd-103/download-tree-of-life-wallpaper-full-hd-nxr/

Pada suatu malam, Tohir, seorang tukang becak, sedang nongkrong di warung kopi Mas Paijo. Setelah satu jam mengopi ditemani rokok Djarum Super, obrolan mereka pun masuk ke dalam sebuah topik yang cukup dalam, mengenai tujuan hidup manusia. Ketika itu tidak ada orang yang datang untuk naik becak karena memang sudah cukup larut malam.

„Jo, menurutmu apakah tujuan hidup kita? Anggap saja rentang usia manusia adalah 100 tahun. Sekitar seperempat waktu hidup manusia di awal, anggap saja hingga umur 30 tahun, digunakan untuk pendidikan formal. Tapi sayangnya bukan pendidikanlah yang mereka cari, mereka menginginkan ijazah untuk pekerjaan bergengsi dengan penghasilan yang tinggi. Kemudian mereka kembali menggunakan seperempat hidup mereka selanjutnya hingga umur 70 tahun untuk bekerja dan mencari uang. Dengan itulah status sosial mereka bisa terangkat, tidak seperti kita-kita ini yang begitu seret dalam keuangan. Apakah artinya tujuan hidup kita adalah uang?” tanya Tohir sambil kembali menyalakan batang rokoknya yang keenam di malam itu.

“Tentu bukan uang Hir tujuan hidup kita. Continue reading “Dunia Apa Adanya”

Kebenaran dan Perspektif

truetruthgraphic
https://btwndevilandsea.files.wordpress.com/2015/12/truetruthgraphic.jpg

Sebuah acara makan malam dihadiri oleh orang Jepang, orang Jerman, dan orang Indonesia. Melihat orang Jepang menggunakan sumpit untuk makan steak, datanglah orang Jerman kepadanya dan menunjukkan cara makan menggunakan pisau dan garpu. Kemudian menu berikutnya pun datang, yaitu mie ramen. Kini giliran orang Jepang mengajarkan si orang Jerman cara menggunakan sumpit. Ketika menu ketiga yaitu ikan mas berduri, kepiting, dan lalapan datang, mereka berdua bingung harus memakai pisau garpu atau sumpit. Orang Indonesia pun datang sebagai pahlawan dan menunjukkan bagaimana cara makan menggunakan tangan. Sambil tertawa dan bercanda, mereka menikmati proses makan itu hingga sama-sama mendapatkan perut yang kenyang.

Sesuai ilustrasi di atas, begitulah agama dan kepercayaan. Continue reading “Kebenaran dan Perspektif”