Kebenaran yang Bersembunyi

http://99px.ru/sstorage/53/2015/07/tmb_137151_1339.jpg
http://99px.ru/sstorage/53/2015/07/tmb_137151_1339.jpg

*Disclaimer: tulisan ini berisi interpretasi dari ide-ide para pemikir yang memang sengaja tidak saya sebutkan.

Pada suatu ketika lahirlah seorang bayi manusia di bumi. Sang bayi menggunakan pikiran dan panca inderanya untuk menginterpretasi dunia sekitarnya. Ia mulai mengembara untuk mencari sebuah kebenaran. Sebuah kebenaran yang diyakini akan ditemukan bila sang bayi mencarinya. Sebuah kebenaran yang dibutuhkannya agar hidupnya tenang dan bahagia.

Masa Kanak-Kanak dan Kebenaran Agama

Sang bayi bertumbuh menjadi balita di sebuah keluarga yang taat beragama. Sang balita meyakini bahwa agamanyalah yang memberikan jawaban menyeluruh atas pertanyaannya mengenai kehidupan. Ketika itu ia masih tinggal di dalam rumahnya, sehingga satu-satunya kebenaran yang dia kenal hanyalah ajaran agama dari keluarganya.

Ia begitu keranjingan membaca kitab sucinya dan bersemangat dalam melakukan ritual-ritual keagamaannya karena ia tahu bahwa hal itulah yang secara pasti dapat membawa dia ke dalam kebahagiaan sejati, yaitu kebahagiaan di Surga ketika dia mati nanti. Segala aktivitas kecil sehari-hari seperti cara menggosok gigi, cara tidur, cara berbicara, cara berpakaian, hingga cara buang air besar ia cocokkan dengan ajaran agamanya. Semakin detail aturan-aturan agamanya, maka semakin senang ia melakukannya. Terdapat sebuah kepuasan ketika semua tingkah lakunya dan fenomena sekitarnya begitu sangat detail dirumuskan oleh agamanya. Continue reading “Kebenaran yang Bersembunyi”

Advertisements

Ketika Topeng Menguasaiku (sedikit imajinasi di tengah masa Pilpres 2014)

gambarimpiancapresjokowidanprabowo4
https://cdns.klimg.com/kapanlagi.com//p/gambarimpiancapresjokowidanprabowo4.jpg

Negara Nusa, negara yang sering disebut dengan Republik Kepulauan, kini sedang berada dalam situasi perang. Ancaman datang dari luar negeri untuk menghancurkan Negara Nusa. Dan di saat genting ini, Negara Nusa dipenuhi oleh iklan-iklan dari kedua Pahlawan Bangsanya. Spanduk-spanduk berformat 3D memenuhi tiap sudut kota.

Terpampang sebuah spanduk 3D dari seorang yang kekar, Pak Wowo, Pahlawan Pertama. Ia sedang menaiki Pegasus Putih dengan gagahnya sambil mengacungkan sebilah pedang Ksatria. Kemudian ia berseru dengan suara yang begitu menggelegar

“Nusa memerlukan pemimpin yang kuat dan berani untuk mempertahankan keutuhan bangsa!” . 

Adegan selanjutnya di spanduk 3D itu adalah ketika Pak Wowo bertarung bersimbah darah melindungi begitu banyak rakyatnya yang lemah dan tak berdaya dari serangan serdadu-serdadu berotot besar dari bangsa lain.

Sementara di samping spanduk itu terlihat spanduk 3D di mana seorang pria kurus yang memegang sebilah keris kecil berjalan kaki di sekitar lahan pertanian. Ia bertarung bersama para petani melawan bandit-bandit kurus, kemudian dengan kalem berbisik

“Jangan takut ! Aku bertarung bersamamu untuk bersama menuju kemenangan.“

Dialah Pahlawan Kedua, Pak Wiwi. Continue reading “Ketika Topeng Menguasaiku (sedikit imajinasi di tengah masa Pilpres 2014)”

Perspektif Alam Semesta

Creative_Wallpaper_Universal_soul_035165_
http://www.zastavki.com/pictures/1920×1200/2012/Creative_Wallpaper_Universal_soul_035165_.jpg

Sebagai manusia seringkali kita melihat dunia ini dalam perspektif manusia. Beberapa ajaran agama dan kultur pun terlalu berpusat pada manusia. Manusia sebagai makhluk paling sempurna di dunia berhak menguasai alam, di mana alam yang walaupun diciptakan terlebih dahulu sebelum manusia, diserahkan oleh Tuhan untuk kepentingan manusia. Segala perkembangan teknologi pun dirancang sedemikian rupa untuk berdaya guna bagi manusia. Selama dalam proses spesies manusia lebih diuntungkan, proses itu selalu dibenarkan secara moral. Oleh karena itu, berbagai kepunahan hewan dan tumbuhan terjadi demi keberlangsungan hidup spesies manusia. Manusia ingin mengambil peran terbesar dalam semesta dan menjadi pusat alam semesta.

Namun, benarkah bahwa manusia adalah subjek dan pemeran utama dalam alam semesta? Apakah kita menyadari bahwa manusia hanyalah sebesar bakteri di alam semesta yang sangat besar ini? Bila begitu, mampukah kita sebagai manusia benar-benar menundukkan alam dan mengolahnya? Tulisan ini akan secara perlahan membawa kita melampaui perspektif manusia dalam melihat alam semesta menuju ke perspektif alam semesta sendiri.

Continue reading “Perspektif Alam Semesta”

Menuju ke Atas

the_frog_in_the_well_by_elshastara-d4y2yua
http://www.motoradda.com/wp-content/uploads/2015/07/the_frog_in_the_well_by_elshastara-d4y2yua.jpg

Alkisah, terlahir tiga ekor kecebong jenius di dalam sebuah sumur yang dalam dan gelap. Sumur itulah satu-satunya dunia mereka, di mana mereka bermain dan menghabiskan waktu bersama. Saat beranjak dewasa dan bertransformasi menjadi seekor katak, mereka begitu penasaran dengan cahaya terang dari matahari yang berada di atas mereka, tepatnya di luar sumut tersebut. Mereka yang selama ini selalu sepemikiran pun akhirnya berdebat mengenai bagaimana cara mereka menuju ke atas.

Katak jenius pertama yang memiliki badan kekar bersikukuh bahwa konsep tangga dan latihan fisik dialah yang mampu membawa mereka ke atas.  Argumen itu dibantah oleh katak jenius kedua yang kurus kerempeng, namun ahli dalam elektro. Dia lebih meyakini bahwa konsep eskalatornyalah satu-satunya cara terbaik untuk keluar sumur. Tak kalah dengan kedua katak tersebut, katak jenius ketiga yang hobi bertualang menawarkan konsep peta, di mana eksplorasi sumur gelap itulah yang seharusnya mereka lakukan untuk mencari jalan menuju ke atas sumur.

Perdebatan itu pun memanas dan mengakibatkan mereka bertengkar setiap saat. Mereka mulai menyalahkan konsep lainnya dan menyombongkan konsepnya sendiri sebagai kebenaran mutlak. Pada akhirnya, mereka pun berpisah dan melaksanakan konsepnya masing-masing. Katak jenius pertama pun berhasil menciptakan tangga dan dengan kekuatan fisiknya berhasil memanjat tangga tersebut hingga ia keluar dari sumur tersebut. Ketika berada di atas, ia melihat bahwa kedua katak lainnya pun berhasil keluar sumur dengan caranya masing-masing. Mereka pun saling memandang satu sama lain dan segera membuang peralatan mereka, yaitu tangga, eskalator, dan juga map yang mereka pakai untuk menuju ke atas. Alat-alat itu tidaklah lagi berguna ketika berada di luar sumur.

Mereka sadar bahwa cara-cara berbeda tersebut membawa mereka pada ujung yang sama. Pertarungan konsep yang mereka lakukan sebelumnya pun ternyata tidak ada gunanya setelah mereka berada di atas. Justru konsep-konsep itulah yang akan membawa mereka kembali ke dalam sumur yang gelap dan dalam bila mereka bersikukuh mempertahankannya setelah berada di luar sumur.

Tannenbusch Mitte,

4.2.2017

13:05

Kebebasan Berpikir dan Perubahan

consciousness-011
http://kingofwallpapers.com/consciousness/consciousness-011.jpg

Akhir-akhir ini begitu banyak kejadian di Indonesia yang membuat saya merenungi apakah sifat alami dari dunia ini. Banyak orang bertengkar karena perbedaan perspektif dalam beragama, terutama antara kaum konservatif dan kaum progresif.

Kaum konservatif vs Kaum progresif

Kaum konservatif merasa bahwa suatu kebenaran adalah abadi dan tidak dapat berubah. Mereka ini dianggap sebagai kaum yang terikat oleh dogma-dogma dan tidak berpikir bebas.  Di sisi lain, kaum progresif  merasa bahwa kebenaran itu dapat berubah-ubah, disesuaikan seiring perkembangan zaman. Kebebasan berpikir adalah poin utama yang mereka perjuangkan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah benarkah bahwa kebenaran itu tidak dapat berubah seperti yang dikatakan kaum konservatif? Lalu, apakah kebebasan berpikir hanya dimiliki oleh sebagian orang yang dianggap sebagai kaum progresif?

Bila melihat sejarah perkembangan agama, saya berani menyimpulkan bahwa setiap kemunculan agama baru adalah hasil dari kebebasan berpikir, meskipun agama itu dianggap sebagai agama yang sangat konservatif. Setiap orang yang mempelopori suatu agama baru menggunakan kebebasan berpikir. Continue reading “Kebebasan Berpikir dan Perubahan”