Kebenaran yang Bersembunyi

http://99px.ru/sstorage/53/2015/07/tmb_137151_1339.jpg
http://99px.ru/sstorage/53/2015/07/tmb_137151_1339.jpg

*Disclaimer: tulisan ini berisi interpretasi dari ide-ide para pemikir yang memang sengaja tidak saya sebutkan.

Pada suatu ketika lahirlah seorang bayi manusia di bumi. Sang bayi menggunakan pikiran dan panca inderanya untuk menginterpretasi dunia sekitarnya. Ia mulai mengembara untuk mencari sebuah kebenaran. Sebuah kebenaran yang diyakini akan ditemukan bila sang bayi mencarinya. Sebuah kebenaran yang dibutuhkannya agar hidupnya tenang dan bahagia.

Masa Kanak-Kanak dan Kebenaran Agama

Sang bayi bertumbuh menjadi balita di sebuah keluarga yang taat beragama. Sang balita meyakini bahwa agamanyalah yang memberikan jawaban menyeluruh atas pertanyaannya mengenai kehidupan. Ketika itu ia masih tinggal di dalam rumahnya, sehingga satu-satunya kebenaran yang dia kenal hanyalah ajaran agama dari keluarganya.

Ia begitu keranjingan membaca kitab sucinya dan bersemangat dalam melakukan ritual-ritual keagamaannya karena ia tahu bahwa hal itulah yang secara pasti dapat membawa dia ke dalam kebahagiaan sejati, yaitu kebahagiaan di Surga ketika dia mati nanti. Segala aktivitas kecil sehari-hari seperti cara menggosok gigi, cara tidur, cara berbicara, cara berpakaian, hingga cara buang air besar ia cocokkan dengan ajaran agamanya. Semakin detail aturan-aturan agamanya, maka semakin senang ia melakukannya. Terdapat sebuah kepuasan ketika semua tingkah lakunya dan fenomena sekitarnya begitu sangat detail dirumuskan oleh agamanya.

Kesenangan itu berlangsung begitu lama hingga suatu ketika sang bayi pergi ke sekolah dasar untuk mengenyam pendidikan. Di situ sang bayi yang telah bertumbuh menjadi kanak-kanak melihat sebuah kejanggalan.

„Mengapa teman-temanku mencuci tangan dengan cara yang berbeda? Mengapa teman-temanku membaca kitab suci yang berbeda denganku? Mengapa jawaban dari teman-temanku atas berbagai pertanyaan mendetail berbeda denganku? “ tanya sang kanak-kanak dalam hati.

Sang kanak-kanak mulai menyadari ternyata ada ajaran agama yang berbeda dengan ajaran agamanya. Sang kanak-kanak kemudian mencari agama mana yang patut ia jadikan pegangan. Ia berpindah dari agamanya yang awal ke agama lainnya hingga suatu ketika ia merasa menemukan satu agama yang dia anggap benar karena lebih memaparkan jawaban dan aturan detail akan kehidupannya. Berawal dari penemuan kebenaran agama itu, ia mulai datang mendebat dan berusaha meyakinkan teman-teman lainnya dari agama berbeda untuk masuk ke agamanya. Ia merasa bahwa ia telah mengatakan kebenaran sehingga ia patut membujuk temannya untuk mengikutinya karena ia khawatir bila temannya masuk neraka dan tidak dapat diselamatkan untuk masuk ke dalam surga sang kanak-kanak.

„Mereka salah dan jahat. Oleh karena itu aku ingin mereka menjadi benar dan baik sama sepertiku karena aku begitu menyayangi mereka,“ begitu gumam sang kanak-kanak.

Masa Remaja dan Kebenaran Sains

            Beranjak remaja, sang kanak-kanak mengenyam pendidikan tinggi. Rasionalitas diajarkan begitu kuat di perguruan tinggi. Sang remaja mulai memahami bahwa terdapat berbagai argumentasi tidak rasional, tidak logis, dan tidak masuk akal dalam ajaran agamanya. Ia kemudian melepas agamanya dan menjadi begitu rasional. Keobjektifan menjadi pegangan hidupnya saat ini.

„Aku telah bebas!“ ujar sang remaja. „Aku sekarang bebas dari belenggu ketidakrasionalan dan imajinasi. Aku tak akan lagi mempercayai sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara akal sehat. Sains telah menjawab berbagai pertanyaanku mengenai kehidupan dan kuyakin ia akan membuka semuanya seiring berjalannya waktu.“

Ketika itu ia mulai menertawakan sahabatnya yang masih memegang kebenaran agama. Ia menertawakan bagaimana cara sahabatnya mengatasi berbagai penderitaan hidupnya melalui wejangan-wejangan menenangkan dari agama. Ia menertawakan bagaimana dunia berperang hanya demi pemaksaan sebuah kebenaran agama yang imajinatif. Ia merasa jijik akan kefanatikan orang-orang beragama. Sang remaja kemudian menyebarluaskan kebenaran objektif sainsnya ke dalam dunia demi dunia yang dia idealkan, yaitu dunia penuh kerasionalitasan yang objektif. Dunia di mana segala tingkah lakunya dan berbagai fenomena mampu dijelaskan secara detail oleh sains.

„Kamu begitu lemah! Mengapa kamu masih saja mau ditipu oleh imajinasi-imajinasi mengenai Surga yang tidaklah nyata? Mengapa kamu menelantarkan moral rasional hanya demi moral imajinatif yang tidak rasional dari kitab sucimu? Aku ini berani menghadapi hidup. Aku sungguh humanis. Moral-moral dunia ini tidak lagi ditentukan oleh Tuhan dalam kitab suci. Aku sebagai manusia independen mampu menentukan moral-moral di dunia ini. Seandainya semua orang menjadi rasional dan objektif seperti aku, tentu dunia ini akan lebih baik. Kemajuan dunia ke arah yang lebih baik niscaya terjadi.“

Masa Dewasa dan Perspektivisme

Menjelang dewasa, gairah sang remaja untuk menyebarkan kebenarannya mulai redup. Ia sekarang hidup dalam tahap merefleksikan hidupnya.

„Ketika aku kanak-kanak, aku membahasakan kebenaran dalam konsep-konsep agama. Kemudian ketika aku remaja, kubahasakan kebenaran melalui konsep-konsep sains. Namun, apakah konsep-konsep itu cukup untuk mewakili kebenaran secara utuh? Aku ragu akan hal itu. Sadarkah aku akan keterbatasan bahasa sehingga konsep itu hanya menggeneralisasi, mendangkalkan dan bahkan memfalsifikasi sebuah kebenaran? Saat aku mengungkapkan „meja bundar itu berwarna coklat“ bukankah itu penyederhanaan sebuah peristiwa kompleks dalam tubuh juga berbagai fenomena sekitar? Bahkan ungkapan itu datang terlambat setelah berbagai peristiwa telah terjadi dalam tubuhku dan sekitarku. Bagaimana dapat kukatakan bahwa ia memiliki arti bila ia tidak mencakup pendeskripsian seluruhnya bahkan muncul secara terlambat?“

“Kedangkalan konsep pun terlihat ketika aku mendefinisikan sebuah “kebahagiaan”. Kata “kebahagiaan” muncul setelah aku membandingkan realitas dunia: kaya-miskin, pintar-bodoh, sehat-sakit, kemakmuran-kelaparan, cantik-jelek, dan lainnya. Dari perbandingan tersebut, aku mendefinisikan sebuah “kebahagiaan” sebagai sesuatu yang nyata. Namun, bukankah konsep “kebahagiaan” itu pun tidak akan muncul ketika aku tidak memiliki konsep “ketidakbahagiaan”? Tanpa perbandingan dan penilaian bukankah tidak ada konsep yang nyata? Bukankah itu berarti aku terlalu terlekat pada satu konsep, di mana aku cenderung mengharapkan kemudian memilih salah satu realitas di hadapan realitas yang nyatanya memiliki keduanya?”

„Ketika aku kanak-kanak, aku menghendaki dunia idealku, yaitu dunia di mana orang-orang mengimani kitab suciku. Aku menghendaki mereka yang beragama lain menanggalkan agamanya agar kepercayaan akan kebenaran agamaku merajai dunia. Lalu ketika aku beranjak remaja, aku pun menghendaki dunia idealku, yaitu dunia di mana orang-orang mengimani kerasionalan dan keobjektifan. Aku menghendaki mereka menanggalkan semua kepercayaan-kepercayaannya entah itu kepercayaan agama, ideologi, filsafat, dan lainnya agar kepercayaan akan kebenaran objektif sainskulah merajai dunia. Tetapi, atas nama apa aku menginginkan kehendakku yang merajai dunia? Tidakkah itu suatu bentuk kefanatikkan dan keegoisan?“

„Ketika aku kanak-kanak, aku mendapat sebuah pegangan yaitu kebenaran kitab suci agamaku yang tidak rasional. Lalu ketika aku beranjak remaja, aku mendapat sebuah pegangan yaitu kebenaran sainsku yang rasional. Konsep-konsep di dalamnya itu menyenangkanku karena aku percaya bahwa ia mampu mendeskripsikan seluruhnya. Omong-omong, mengapa aku membutuhkan pegangan itu? Apakah aku mengharapkan sebuah kepastian dalam hidup? Tidak cukup beranikah aku menghadapi realitas yang terpampang luas layaknya samudra tidak terbatas, di mana tidak ada kepastian di dalamnya? Atas dasar apa aku berani mengatakan bahwa sesuatu yang rasional lebih baik dibanding sesuatu yang tidak rasional ataupun sebuah iman akan Tuhan lebih baik dibandingkan ketidakimanan terhadap Tuhan?“

„Di balik itu semua, aku melihat sebuah moralitas, yaitu sebuah penilaian benar/salah dan baik/buruk. Moralitaslah yang menjadi peganganku selama ini, entah saat aku beragama ataupun saat aku tidak lagi beragama. Aku ingin moralitaskulah yang menjadi landasan dunia ini. Namun, atas dasar apa aku meyakini bahwa moralitaskulah satu-satunya kebenaran yang mutlak? Takutkah aku berhadapan dengan ketiadaan kebenaran juga kepastian sehingga aku tak lagi mampu berpegang pada apapun?“

„Bukankah realitas tidak mengenal moralitas? Bukankah realitas hanya sekedar ada tanpa sebuah penilaian? Atas dasar apa aku ingin menyingkirkan jutaan moralitas versi lain demi moralitas versiku sendiri? Bukankah itu berarti aku ingin membelah dunia ini yang memang dibentuk oleh berbagai sudut pandang mengenai moralitas? Moralitas hanya mereduksi realitas di tahap kegunaan. Apakah realitas hanya sesempit kegunaan saja? Oh, ternyata aku hanya seorang pengecut yang tidak berani menghadapi realitas yang tak terarungi. Aku hanya ingin menerima sebagian dari dunia dan menolak sebagian lainnya. Aku takut menghadapi realitas yang tidak sesuai dengan harapanku. Di balik ketakutan itu, aku malah berusaha terlihat hebat dengan menjadi penentu kebenaran untuk orang lain. Kutertawakan mereka yang berseberangan denganku karena aku tak mau menerima realitas apa adanya.“

„Kini kubuang moralitasku sehingga aku tidak lagi memberi penilaian baik/buruk dan benar/salah. Aku terima realitas ini apa adanya tanpa penilaian. Tak ada yang benar dan tak ada yang salah, tak ada yang baik dan tak ada yang buruk. Lalu, apakah tujuan hidupku ini? Bila tak ada arti yang kutemukan dalam hidup, haruskah aku pesimis dan membuang kehidupan itu sendiri? Tidak. Aku tidak ingin kembali menjadi pengecut yang membuang realitas. Aku tahu bahwa aku hanya bermain bersama moralitas dan konsep-konsep kebenaran yang tidak mutlak itu. Aku tahu bahwa kebenaranku hanyalah benar dalam konteks, bukan kebenaran yang mutlak. Setidaknya dengan bermain di sana, aku tidak akan terlekat padanya karena hal itu tidaklah sepenting itu. Dengan begitu, kuhargai pula moralitas sudut pandang lain yang kalian sampaikan. Aku tidak punya tujuan akhir, meskipun aku punya tujuan-tujuan singkat yang akhirnya akan kulepas pula untuk membentuk kembali tujuan-tujuan singkat lainnya.“

Figur Pelaut, Peselancar, Bayi, dan Seniman

“Aku meskipun hidup dalam penderitaan, tidak lagi lari mencari motivasi-motivasi yang bila dikonsumsi berlebihan akan menjadi candu. Aku tidak pula malah melampiaskannya dengan menjadi beringas terhadap orang lain. Aku hanya sekedar menerima semua kehidupanku baik/buruk juga benar/salah apa adanya. Kusadari penilaianku akan tiap pengalaman hidupku hanyalah bersifat sementara. Oleh karena itu, tak akan kubiarkan diriku jatuh terjerembab di dalam penilaian moralitasku.”

“Layaknya seorang pelaut yang sedang berlayar di laut yang tenang, aku tidak terlena oleh tidur nyenyakku karena aku tahu bahwa badai akan selalu datang tiba-tiba. Aku pun tidak waspada secara berlebihan karena konflikku dalam badai tidak akan berlangsung lama, kutahu laut pun akan kembali tenang. Aku hanya menikmati setiap momen-momen tenang dan menegangkan tanpa jatuh terperosok kedalamnya. Tidak kupegang kesedihan dan kesenanganku secara erat karena aku hanyalah penikmat momen, penikmat proses dan penikmat ketidakpastian.”

“Emosi itu seperti laut yang kadang menenangkan dan kadang berombak. Diriku hanyalah peselancar yang ikut mengalir dalam ketenangan dan juga ombak laut namun tidak tenggelam dalam laut. Aku tetaplah hidup bersama emosi, namun tidak tenggelam dalam emosi itu sendiri. Aku marah namun tidak jatuh dalam dendam, aku sedih namun tidak jatuh dalam putus asa, aku gembira namun tidak jatuh dalam euforia berlebihan.”

“Seorang bayi mudah kagum, namun mudah juga melupakan kekagumannya itu. Suatu ketika dia senang main mobil-mobilan, tapi setelah itu dia tendang mobil-mobilan itu, lalu bermain dengan lego yang kemudian akan ditendangnya lagi, dan seterusnya. Dia tidak terlekat pada permainan mobil-mobilannya dan menendangnya bukan karena dendam, tapi karena memang dia polos dan dan hidup secara alami sebagaimana si peselancar.”

„Hai aku yang kanak-kanak dan remaja, aku yang berada di kumpulan para pengklaim kebenaran! Bukankah kebenaran yang kita pegang tidaklah bersifat mutlak? Sekarang ini, layaknya seorang seniman yang tidak mempedulikan moralitas dalam pengaktualisasian dirinya dan hanya memainkan karya seninya yang akan dibuang setelah dirinya bosan, lalu membuat karya baru lainnya yang akan dia hancurkan lagi, aku pun begitu. Antarseniman saling melontarkan kritikan pedas satu sama lain, namun yang mengkritik maupun yang dikritik santai dalam menghadapinya karena mereka tahu bahwa seni hanyalah sekedar permainan, aku pun begitu. Kutahu bahwa saat ini aku hanya bermain dalam konsep dan siap membuang semua permainan ini yang sama sekali tidak penting karena tidak mewakili kebenaran seutuhnya. Tidak ada lagi permainan yang kupegang dengan begitu eratnya tanpa berani kulepas lagi. Aku hanya sekedar mengaktualisasikan diriku tanpa mengharapkan apapun. Kebenaran memang cukup menggairahkan untuk diraih, tapi dia begitu malu dan selalu bersembunyi saat aku kejar.“

 

Tannenbusch Mitte,

 

04.07.2017

23:10

Advertisements

3 thoughts on “Kebenaran yang Bersembunyi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s