Perspektif Alam Semesta

Creative_Wallpaper_Universal_soul_035165_
http://www.zastavki.com/pictures/1920×1200/2012/Creative_Wallpaper_Universal_soul_035165_.jpg

Sebagai manusia seringkali kita melihat dunia ini dalam perspektif manusia. Beberapa ajaran agama dan kultur pun terlalu berpusat pada manusia. Manusia sebagai makhluk paling sempurna di dunia berhak menguasai alam, di mana alam yang walaupun diciptakan terlebih dahulu sebelum manusia, diserahkan oleh Tuhan untuk kepentingan manusia. Segala perkembangan teknologi pun dirancang sedemikian rupa untuk berdaya guna bagi manusia. Selama dalam proses spesies manusia lebih diuntungkan, proses itu selalu dibenarkan secara moral. Oleh karena itu, berbagai kepunahan hewan dan tumbuhan terjadi demi keberlangsungan hidup spesies manusia. Manusia ingin mengambil peran terbesar dalam semesta dan menjadi pusat alam semesta.

Namun, benarkah bahwa manusia adalah subjek dan pemeran utama dalam alam semesta? Apakah kita menyadari bahwa manusia hanyalah sebesar bakteri di alam semesta yang sangat besar ini? Bila begitu, mampukah kita sebagai manusia benar-benar menundukkan alam dan mengolahnya? Tulisan ini akan secara perlahan membawa kita melampaui perspektif manusia dalam melihat alam semesta menuju ke perspektif alam semesta sendiri.

Agama dan Alam

Meskipun berbagai agama terlihat lebih memfokuskan manusia sebagai pusat, namun sebenarnya bila ditelisik lebih jauh lagi terdapat ajaran keharmonisan manusia dengan alam. Dalam kitab agama Yahudi dan Kristen terdapat kisah di mana Tuhan menempatkan Adam dan Hawa di taman Eden agar mereka bekerja dan memelihara taman itu (Alkitab, Kejadian 2:15). Dalam Islam terdapat pula sebuah perintah untuk menjaga keseimbangan alam secara adil (Al Quran Surat 55 (Ar Rahmaan), 3-10) dan larangan untuk membuat kerusakan di muka bumi (Al Quran, Surat Al-Baqarah: 2,11).

Dalam Hindu terdapat lagu-lagu pujian pada Rig Weda. Lagu itu mengandung pujian pada alam dan unsur-unsurnya, di mana kemudian dijadikan gelar untuk masing-masing dewa sesuai dengan unsur alam tersebut (Bayu-angin, Baruna-air, Indra-petir, Surya-matahari, Agni-api, dan lainnya). Begitu pun dalam Buddha. Buddha telah lama mengajarkan untuk  berusaha menolong semua makhluk (dalam Empat Prasetya), bahkan menyadari kesatuan diri dengan alam semesta, di mana segala sesuatu saling tergantung dan terkait (dalam Pali, Samyutta Nikaya II, 12:21).

Ketika nabi-nabi Yahudi mengatakan keselamatan bagi bangsa Israel, Yesus datang untuk melampauinya dan menyatakan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Lalu kita memiliki Islam yang menyatakan „Islam rahmatan lil alamin”, yaitu Islam yang kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam. Buddha sudah jauh sebelumnya melihat diri dan alam semesta sebagai sebuah kesatuan. Perspektif seluas alam semesta inilah yang ingin kita capai. Dengan demikian perspektif alam semesta membuka kita untuk membawa keselamatan pada alam semesta itu sendiri (yang merupakan diri kita juga).

Proses Alam Semesta dan Keabadiannya

Bila kita mengamati sejenak, keharmonisan proses kehancuran-kehidupan atau kematian-kehidupan terlihat dari proses perubahan bentuk alam semesta.

Dalam ilmu biologi, kematian seorang manusia adalah berkah bagi cacing untuk terus bertahan hidup. Sang cacing mengkonsumsi bakteri dan jamur yang telah mengurai jasad manusia. Proses inilah yang kemudian menyuburkan tanah di sekitar tempat kematian tersebut. Kemudian muncullah rumput dengan subur sebagai makanan dari sapi di pekarangan tersebut. Pada akhirnya seorang ibu hamil dapat kembali dapat bertahan hidup dan mempertahankan janinnya dengan mengkonsumsi sapi ataupun susu sapi tersebut. Beginilah terus berulang proses rantai makanan.

Bila kita tarik lebih jauh lagi:

Jutaan sperma mati, meloloskan satu sperma yang berhasil bertemu sel telur dan menembus cangkang sel agar terjadi pembuahan. Kemudian terleburlah sperma dan sel telur itu dan membentuk sebuah janin. Inilah proses kematian sperma dan sel telur untuk kehidupan sebuah janin, sebuah janin dalam seorang ibu hamil yang tentu akan berperan dalam proses rantai makanan di atas.

Semua ini dapat kita tarik lebih jauh lagi secara kosmologis ke dalam proses terciptanya makhluk bersifat organik (manusia, hewan, tumbuhan) di bumi ini yang dimulai dari evolusi benda anorganik (air, gas, mineral) dimulai dari teori Big Bang:

Secara singkat dan sederhana, alam semesta pada awalnya kosong, kemudian alam semesta memperluas dirinya sendiri. Lalu, pada inti semesta tercipta partikel-partikel sederhana, yang membentuk atom hidrogen. Atom hidrogen menguasai sebagian besar alam semesta. Atom-atom ini kemudian membentuk bintang hidrogen karena gaya gravitasinya satu sama lain. Salah satu dari bintang hidrogen ini ialah matahari. Kemudian tejadi tekanan dan panas dengan konsentrasi tinggi yang menyebabkan terjadinya reaksi fusi dari atom Hidrogen menjadi atom Helium. Seiring dengan waktu, seluruh atom Hidrogen yang bisa dibakar menjadi helium akan habis, dan bintang tersebut akan mati. Bintang mati ini dapat berevolusi menjadi bintang helium, namun dapat juga meledak. Ledakan ini dinamakan supernova yang menghasilkan reaksi nuklir sehingga terbentuklah partikel – partikel berat seperti logam, karbon, besi, dan lainnya.

Milyaran tahun berikutnya semakin banyaklah elemen-elemen di alam semesta, salah satunya oksigen yang mengambang begitu saja di luar angkasa. Proses ini terus berlanjut hingga terbentuklah bumi yang memiliki atmosfer yang salah satu komponennya adalah air (H20). Terjadilah berbagai proses di bumi seperti petir atau radiasi. Dengan adanya air, maka terjadilah reaksi kimia yang membentuk asam amino sebagai komponen dasar protein. Lalu protein-protein itu saling bereaksi dan menjadi RNA yang mampu bereplika/berkembang biak. Susunan RNA yang rapi pun menjadi sebuah sel yang akhirnya berkumpul dan berevolusi menjadi multisel. Proses evolusi makhluk hidup primitif ini terus berlangsung hingga menjadi berbagai makhluk hidup yang kita lihat sekarang, di mana manusia adalah satu di antara sekian banyak hasil evolusi tersebut. Kehidupan di bumi dimulai dari atom hidrogen yang terus berevolusi hingga menjadi manusia.

Lalu, apa arti dari semua ini? Apa arti dari kematian, kehidupan, dan perubahan bentuk terus menerus seperti yang dijabarkan di atas? Dalam perspektif manusia, kita membedakan apa itu kehidupan dan apa itu kematian yang dilihat dari perubahan bentuknya. Kita mengatakan kita hidup saat dilahirkan dari seorang ibu hamil dalam bentuk seorang bayi, lalu kemudian mati ketika jantung tak lagi berdetak dalam bentuk mayat. Oleh karena itu, semua proses di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika bentuk awal mati, ia akan merubah bentuknya hingga hiduplah bentuk baru. Sebuah kematian adalah berkah bagi kehidupan baru. Apa yang terjadi hanyalah perubahan bentuk di dalam proses keabadian alam semesta.

Namun, dalam perspektif alam semesta, kematian, kehidupan, juga perubahan bentuk tidaklah berlaku. Jiwa alam semesta terus abadi tanpa sebuah perubahan. Kematian dan kehidupan yang terus menerus ini tidaklah ada, yang ada hanyalah keabadian jiwa alam semesta. Bentuk yang berbeda-beda itu pun tidaklah ada. Persepsi perbedaan bentuk ini dikarenakan keterbatasan panca indera manusia dalam mencerap bentuk.

Secara kasaran sederhana dapat dikatakan bahwa alam semesta hanya berproses dan berubah bentuk (dalam persepsi panca indera manusia)  secara berkesinambungan dan abadi. Benda anorganik berevolusi menjadi makhluk organik yang berkembang menjadi manusia, kemudian berubah bentuk lagi menjadi tanah pada akhir hidup manusia, kemudian berubah bentuk lagi menjadi rumput sebagai bahan dasar pertumbuhannya, kemudian menjadi sapi setelah rumput itu dimakan, kemudian kembali menjadi manusia yang mengkonsumsi sapi itu, dan seterusnya. Inilah keabadian jiwa alam semesta dalam perubahan bentuknya (dalam persepsi panca indera manusia)  yang terus menerus.

Peranku Sebagai Alam Semesta

Alam semesta tidak lagi melihat sebuah perbedaan. Manusia, hewan, tumbuhan, air , mineral, gas, dan semuanya tidaklah berbeda. Semua adalah alam semesta dan berperan besar dalam proses dirinya sendiri. Aku adalah alam semesta dan alam semesta adalah aku. Dengan ini, aku tidak lagi takut akan kematian karena memang hal itu tidaklah ada. Sebagai alam semesta, aku terus hidup abadi dalam bentuk yang berbeda-beda. Bahkan sebenarnya bentuk yang berbeda-beda itu pun tidaklah ada. Persepsi perbedaan bentuk ini dikarenakan keterbatasan panca indera manusia dalam mencerap bentuk.

Saat aku merasa alam semesta dan diriku adalah satu, aku tak akan menyakiti yang lain karena aku tak ingin menyakiti diriku sendiri. Aku tak lagi berkata,“Jangan tebang pohon itu! Manusia masih butuh pohon itu agar manusia tak punah,“ namun kukatakan, „Jangan tebang pohon itu karena ia adalah diriku juga dan ia memiliki hak untuk hidup!“

Manusia tidak lagi mengatakan bahwa kamilah yang mengolah alam, namun pada akhirnya menyadari bahwa alam pun mengolah manusia. Alam yang juga berperan dalam mengolah manusia terlihat dari perbedaan karakter  antara masyarakat negara tropis dan masyarakat negara musim dingin. Masyarakat negara tropis lebih suka berkelompok karena iklim tropis yang hangat mendukung untuk berada di luar rumah sehingga dapat bercengkrama bersama tetangganya. Di sisi lain, masyarakat negara musim dingin lebih individualistis karena musim dingin memaksanya untuk berada di dalam rumah dan menyamankan diri dengan buku bacaannya. Hubungan timbal balik alam dan manusia akan semakin disadari.

Dengan perspektif alam semesta, manusia memanfaatkan alam secukupnya. Manusia menggunakan alam sekitarnya hanya untuk kebutuhan dasarnya, tidak lagi untuk keegoisan keinginannya yang begitu rakus. Rantai makanan dan pemanfaatan hewan, tumbuhan, dan alam untuk keberlangsungan hidup tetaplah berjalan, namun tidaklah lagi dalam bentuk pengeksploitasian yang berlebihan. Dengan demikian kepunahan spesies terjadi pada waktu yang tepat. Kepunahan manusia menjadi tidaklah begitu penting saat kita menyadari keabadian diri kita dalam alam semesta. Sekali lagi, dalam perspektif alam semesta tak ada kepunahan itu.

Dalam perspektif alam semesta, moralitas pun dilampaui. Moralitas yang selama ini dianggap sebagai kebenaran dalam keabadian sebenarnya hanyalah perspektif semata yang tentu selalu berubah seiring perkembangan zaman. Gunung berapi tak pernah disebut jahat ketika meletus dan membunuh kehidupan di sekitarnya. Letusan itulah yang pada akhirnya menyuburkan tanah sekitar dan mendukung kehidupan baru. Membunuh dan mencuri tidak dapat lagi selalu dianggap sebagai sebuah kejahatan moral, bila memang hal itu tepat dilakukan. Ketika seseorang mencuri makanan saat ia sedang sangat kelaparan dan akan mati tanpa makanan tersebut, mungkin hal itu dapat dibenarkan secara moral. Melampaui moralitas berarti melampaui penilaian dangkal mengenai baik dan buruk yang terlalu penuh dengan kerumitan analisis menuju proses berpikir dan bertindak secara mengalir dan alami selaras dengan alam semesta.

Pertanyaan Mengenai Kesempurnaan

Lalu, apa itu Tuhan dalam alam semesta?

Tuhan dalam agama Abrahamik selama ini dikonsepkan sebagai entitas Maha yang tidak terbatas yang melampaui logika manusia / transenden. Oleh karena itu, sesuatu yang berada di luar bahasa dan logika manusia, tak mungkin dapat kita deskripsikan. Saat Tuhan itu dibicarakan, tentu hal yang dibicarakan itu ialah konsep Tuhan yang berada di dalam batasan logika dan bahasa manusia, sebuah konsep Tuhan yang terkungkung dalam logika manusia yang terbatas.  Dalam hal ini, jawaban „aku tidak tahu“ lebih tepat diutarakan bagi mereka yang masih mencari Tuhan dalam lingkup logika dan bahasa manusia. Pertanyaan tentang konsep Tuhan tidaklah lagi relevan dalam konteks ini.

Saat berada dalam perspektif alam semesta, akan banyak pertanyaan yang akhirnya tidak lagi relevan dan tidak menjadi begitu penting karena mungkin saja pertanyaan kitalah yang tidak tepat. Hal itulah yang menyebabkan banyak guru-guru tercerahkan yang telah menemukan siapa dirinya yang sebenarnya lebih banyak menggunakan sebuah perumpamaan dalam mengajar. Mereka tidak memberikan solusi dengan jawaban langsung untuk segala permasalahan kita, namun mereka memberikan kita cara agar kita sendiri yang berproses menemukan siapa diri kita sebenarnya dan menemukan solusi tepat yang berupa sebuah kesadaran.

Manusia pun pada akhirnya tidak lagi sibuk mencari apa dan siapa itu kesempurnaan. Manusia menyadari bahwa pertengkaran mereka selama ini ternyata hanya berada di konsep semata yang dibatasi oleh bahasa. Ketika melepas semua konsep dan bahasa kemudian melampauinya, manusia akhirnya sadar bahwa dirinyalah kesempurnaan itu sendiri, sebagai bagian dari kesempurnaan alam semesta. Tanpanya alam semesta tak berarti, tanpa alam semesta dirinya tak berarti. Aku adalah alam semesta dan alam semesta adalah aku. Tuhan dipahami sepenuhnya melalui sebuah pengalaman tak terdefinisi. Hal ini memang sulit diungkapkan karena melampaui bahasa, logika, dan persepsi dalam ruang waktu.

Tannenbusch Mitte,

06.03.2017

20:15

           

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s