Kebebasan Berpikir dan Perubahan

consciousness-011
http://kingofwallpapers.com/consciousness/consciousness-011.jpg

Akhir-akhir ini begitu banyak kejadian di Indonesia yang membuat saya merenungi apakah sifat alami dari dunia ini. Banyak orang bertengkar karena perbedaan perspektif dalam beragama, terutama antara kaum konservatif dan kaum progresif.

Kaum konservatif vs Kaum progresif

Kaum konservatif merasa bahwa suatu kebenaran adalah abadi dan tidak dapat berubah. Mereka ini dianggap sebagai kaum yang terikat oleh dogma-dogma dan tidak berpikir bebas.  Di sisi lain, kaum progresif  merasa bahwa kebenaran itu dapat berubah-ubah, disesuaikan seiring perkembangan zaman. Kebebasan berpikir adalah poin utama yang mereka perjuangkan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah benarkah bahwa kebenaran itu tidak dapat berubah seperti yang dikatakan kaum konservatif? Lalu, apakah kebebasan berpikir hanya dimiliki oleh sebagian orang yang dianggap sebagai kaum progresif?

Bila melihat sejarah perkembangan agama, saya berani menyimpulkan bahwa setiap kemunculan agama baru adalah hasil dari kebebasan berpikir, meskipun agama itu dianggap sebagai agama yang sangat konservatif. Setiap orang yang mempelopori suatu agama baru menggunakan kebebasan berpikir.

Yesus muncul sebagai pendobrak tradisi Yahudi yang dianggap tidak lagi sesuai dan memberikan suatu ajaran baru yang akhirnya mempelopori munculnya kaum Kristiani. Lalu, Muhammad pun muncul sebagai pendobrak tradisi dan ajaran Nasrani dan Yahudi, kemudian mempelopori munculnya agama Islam. Begitu pun dengan Martin Luther yang mendobrak tradisi dan dogma-dogma gereja Katolik dan mempelopori munculnya agama Kristen Protestan. Yesus, Muhammad, dan Martin Luther adalah contoh bahwa kebebasan berpikir yang mereka miliki sebenarnya telah membawa sebuah perubahan. Sayangnya, banyak dari kita yang tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari bahwa agama yang kita anut pun pada awalnya muncul dari kebebasan berpikir para pelopornya.

Lebih jauh lagi, setiap orang sebenarnya menggunakan kebebasan berpikir mereka untuk meyakini apa yang dia percayai. Menurut saya, tak ada satu pun orang yang benar-benar memiliki interpretasi sama terhadap agama yang dia anut. Katolik yang saya yakini tentu tidak sama dengan katolik yang orang lain yakini. Islam yang saya yakini tentu tidak mungkin sama persis hingga ke detail-detailnya dengan Islam yang orang lain yakini. Dengan kata lain, setiap orang secara tidak sadar sebenarnya telah membuat agama dan kepercayaannya sendiri sesuai dengan interpretasi yang dia yakini. Setiap orang dengan ini adalah kaum progresif, hanya saja kecepatan dan tingkat perubahan itu tidaklah sama pada setiap orang.

Perubahan Standard Science

Di zaman ini mayoritas orang-orang beragama menentang kaum LGBT. Kaum LGBT dianggap salah dalam hal moral mayoritas umat beragama. Namun, saya yakin entah berapa ratus tahun mendatang, penentangan terhadap kaum LGBT lah yang dianggap salah secara moral mayoritas. Bila kita kembali ke ribuan tahun lalu, kita harus menyadari bahwa perbudakan di masa lalu dianggap hal yang benar secara moral mayoritas, bahkan hal itu pun tertulis pada kitab-kitab agama besar di zaman ini. Namun dapat kita katakan bahwa sekarang perbudakan tentu sudah dianggap salah secara moral mayoritas. Nilai-nilai kebenaran dalam agama yang kita anut pun sebenarnya telah berubah dan menyesuaikan perkembangan zaman.

Orang Yunani zaman dahulu mengatakan bahwa dewa-dewi seperti Zeus, Poseidon, dan dewa-dewa kuno lainnyalah yang menciptakan fenomena-fenomena alam. Di zaman ini orang tentu hampir semua orang menertawakan kepercayaan itu karena kita sudah dapat membuktikan fenomena alam menggunakan standard science saat ini. Kita di zaman ini menjelaskan proses terbentuknya hujan, petir, dan fenomena alam lainnya dengan penjabaran yang sangat berbeda. Lalu, mengapa sebagian besar orang pada zaman dahulu mempercayai akan keberadaan dewa-dewi yang berkorelasi dengan fenomena alam? Jawabannya adalah karena hal itu memenuhi standard science di zaman itu. Tak dapat dipungkiri entah berapa ribu tahun mendatang, tentu kebenaran-kebenaran science saat ini akan ditertawakan karena peradaban di masa depan akan memiliki standard science yang berbeda.

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa pertentangan saat ini, entah dalam hal science ataupun moral, dikarenakan setiap orang melalui kebebasan berpikirnya mampu berpikir lintas zaman : Di satu sisi ada orang yang memegang standard science/moral mayoritas di zaman ini, di lain pihak ada juga orang yang memegang standard science/moral mayoritas di masa lalu, bahkan ada pula orang yang memegang standard science/moral mayoritas jauh di masa depan. Adakah dari mereka yang salah atau yang benar? Tentu tidak ada seorang pun yang salah bila kita melihat dalam rentang waktu yang sangat lebar. Apa yang dianggap salah saat ini dapat jadi kebenaran entah di masa lalu ataupun di masa depan. Oleh sebab itu, berpacu pada uraian ini seharusnya kita bisa lebih bijak dalam menilai sesuatu dan lebih berusaha memahami perspektif orang lain.

Kesadaran

Lalu apa arti dari semua ini? Mengapa banyak orang yang tidak membuka diri pada perubahan itu sendiri dan dengan mudah menilai orang lain berdasarkan perspektifnya pribadi? Banyak orang melupakan apa yang disebut Kesadaran. Tidak setiap orang menyadari bahwa dirinya dan juga setiap individu lain pada setiap langkahnya secara mutlak melakukan kebebasan dalam berpikir. Kebebasan berpikir inilah yang selalu mempelopori perubahan.  Oleh karena itu, perubahan pada hakikatnya adalah sifat alami dunia ini yang tak mungkin kita ingkari. Kebenaran akan selalu berubah dikarenakan adanya sifat alami lain dari dunia ini yaitu kebebasan berpikir seperti yang saya jabarkan sebelumnya. Entah kebebasan berpikir itu kita sadari atau tidak, ia selalu hadir dalam diri kita sebagai bagian dari dunia, sama halnya juga dengan perubahan yang mengikutinya.

Maukah kita mencoba di awal untuk berani terbuka agar dapat mengasah Kesadaran ini? Bila kita menginginkan sebuah kepastian mutlak dan takut pada perubahan yang sebenarnya selalu ada, maka dapat disimpulkan bahwa kita hanya tidak menyadari bahwa, “satu-satunya kepastian di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri, yang berarti perubahan itu sendirilah yang selalu abadi.”

Tannenbusch Mitte

15.12.2016

16:29

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s