Dunia Apa Adanya

untitled
http://www.keblasuk.com/tree-of-life-wallpaper-full-hd-103/download-tree-of-life-wallpaper-full-hd-nxr/

Pada suatu malam, Tohir, seorang tukang becak, sedang nongkrong di warung kopi Mas Paijo. Setelah satu jam mengopi ditemani rokok Djarum Super, obrolan mereka pun masuk ke dalam sebuah topik yang cukup dalam, mengenai tujuan hidup manusia. Ketika itu tidak ada orang yang datang untuk naik becak karena memang sudah cukup larut malam.

„Jo, menurutmu apakah tujuan hidup kita? Anggap saja rentang usia manusia adalah 100 tahun. Sekitar seperempat waktu hidup manusia di awal, anggap saja hingga umur 30 tahun, digunakan untuk pendidikan formal. Tapi sayangnya bukan pendidikanlah yang mereka cari, mereka menginginkan ijazah untuk pekerjaan bergengsi dengan penghasilan yang tinggi. Kemudian mereka kembali menggunakan seperempat hidup mereka selanjutnya hingga umur 70 tahun untuk bekerja dan mencari uang. Dengan itulah status sosial mereka bisa terangkat, tidak seperti kita-kita ini yang begitu seret dalam keuangan. Apakah artinya tujuan hidup kita adalah uang?” tanya Tohir sambil kembali menyalakan batang rokoknya yang keenam di malam itu.

“Tentu bukan uang Hir tujuan hidup kita. Uang itu ternyata kita gunakan untuk makan, biaya kesehatan, tempat tinggal, dan hal-hal lainnya agar kita bisa bertahan hidup. Jadi berarti tujuan hidup kita adalah untuk hidup Hir. Semua yang kita usahakan selama ini ternyata hanya agar kita dapat bertahan hidup. Itulah tujuan hidup kita,” jawab Mas Paijo sambil menyeduh kopi untuk pelanggan lainnya yang baru datang, yaitu Bang Hosim, seorang penjaga rumah ibadah di daerah itu.

“Eh tunggu dulu, setelah umur 70 tahun, bukankah ajal kita akan menjemput?” Tohir  kembali berargumentasi dengan pertanyaan retorikanya, “Ternyata semua usaha kita untuk bertahan hidup pun sia-sia ketika kita menyadari bahwa kita akan mati pada akhirnya. Tak ada kepastian dalam dunia ini selain ketidakpastian itu sendiri dan kematian Jo! Artinya tujuan hidup kita adalah untuk mati. Kita hidup hanya untuk mati.”

Bang Hosim yang tidak sengaja mendengar argumen Tohir itu pun langsung menoleh dan menyela, „Eits jangan terburu-buru dulu Hir! Kita memang akan mati, tapi bukan berarti mati adalah tujuan hidup kita. Tujuan hidup kita adalah mempersiapkan diri menghadapi kematian agar kita bisa masuk ke dalam kehidupan selanjutnya di surga sana. Jadi kita hidup untuk kehidupan abadi setelah kematian dari kehidupan sementara.“

Melihat kopinya yang semakin mendingin, Bang Hosim pun menyeruputnya terlebih dahulu dan kemudian melanjutkan argumennya , „Setiap manusia pasti tujuan hidupnya adalah memperoleh kebahagiaan. Siapa sih yang tidak ingin berbahagia? Namun sayangnya kebahagiaan kita di dunia ini seperti uang, kehormatan, nafsu-nafsu, dan lainnya itu hanyalah kebahagiaan sementara. Nah, yang kita cari ialah kebahagiaan sejati. Sebuah kebahagiaan yang bila kita telah mendapatkannya, tak mungkin kita menginginkan hal-hal lain lagi. Itulah kebahagiaan sejati di surga sana nanti. Agamalah yang memberikan kita harapan akan perolehan kebahagiaan sejati itu,“ jelas Bang Hosim dengan senyum sumringah seakan-akan dia telah menemukan arti tujuan hidup mutlak yang tak mungkin dapat disangkal lagi oleh kedua temannya itu. Kedua temannya itu hanya mengangguk-angguk tanda setuju karena mereka takut dibilang orang berdosa bila mulai mengkritisi kebenaran agama.

„Hahahahaha. Kalian ini ngobrolin apa sih?“ Suara Kang Deden, seorang hansip di daerah itu, terdengar menggelegar mengusik kesunyian di malam itu. „Aku nih ya,“ serunya melanjutkan sambil mempelintir kumis tebal hitam miliknya „walaupun seorang hansip, tahu bahwa surga atau Tuhan atau apapun itu ga bisa dibuktikan keberadaannya. Kalian bilang bahwa Tuhan itu Maha dan Dia berada di luar jangkauan logika kita. Bila begitu, ketika kita merasa paham tentang Tuhan atau mampu mendeskripsikanNya dalam segala bentuk konsep teologi, sudah jelas itu bukanlah lagi Tuhan karena tentu kita hanya dapat berbicara dan berpikir dalam ruang lingkup logika bahasa. Sesuatu yang berada di luar lingkup logika bahasa itu, tak mungkin dapat kita bicarakan karena memang tak relevan dalam keterbatasan logika bahasa kita. Tak mungkinlah kita bisa bicara tentang sesuatu yang berada di luar jangkauan kita. Tuhan atau Surga yang kalian bicarakan itu, tentu hanya Tuhan dan Surga yang berada dalam ruang lingkup terbatas logika pikiran manusia.“

„Jadi ente ga percaya kalau Tuhan ada, Den?“ tanya Bang Hosim seraya memojokkan karena tak terima argumen mutakhirnya dikritisi.

„Siapa bilang aku ga percaya Sim? Kalau ditanya seperti itu, aku hanya bilang aku tak tahu apakah Tuhan ada atau engga. Aku tak bisa buktikan keberadaanNya dan aku pun tak bisa buktikan ketidakberadaanNya. Itu semua karena aku mengakui bahwa aku ini dibatasi oleh ruang lingkup logika pikiran manusia. Tapi kalau kalian membutuhkan agama dan Tuhan yang memberikan harapan itu, yah silakan kalian meyakininya, selama hal itu bisa membuat kalian berbuat baik untuk dunia, bukan sekedar menghakimi dunia seakan-akan kalianlah Tuhannya. Kalau aku nih ya, aku ga terlalu pusing akan hal itu itu. Aku melihat dunia dengan apa adanya. Di dunia ini selalu ada yang jahat dan yang baik. Yah aku terima itu dengan ikhlas. Aku tetap berusaha untuk berbuat baik tanpa sibuk berpikir apakah yang jahat itu akan hilang di akhir masa. Yang aku sadari adalah segala sesuatu memang harus ada dan semua itu hanyalah proses tanpa akhir. Tak ada akhir, tak ada awal. Semua terjadi begitu saja secara alami dan aku mengikuti aliran kealamian itu.„

Bang Hosim mulai terlihat gelisah. Sebelum Bang Hosim menyela, Kang Deden pun melanjutkan „Apakah aku saat mati akan merasakan surga atau neraka? Mana kutahu itu, yang kutahu adalah aku harus mati dan bertransformasi menjadi tanah untuk memberi makan cacing-cacing itu agar ekosistem dan keseimbangan alam terus berjalan. Gunung merapi pun meletus membunuh makhluk hidup di sekitarnya agar tanah di sekitarnya menjadi subur. Dalam hal ini tak pernah kita bilang bahwa gunung merapi itu jahat. Jahat dan baik itu hanya perspektif manusia. Lagian tak bisalah kita bilang bahwa hal itu baik bila tak ada perbandingan sesuatu yang jahat. Dalam kata lain kebaikan itu ada karena ada kejahatan. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Perang ada agar kita mampu memahami apa itu makna dari kedamaian. Tanpa perang, mana mungkin kita bisa memahami apa itu kedamaian? Kedamaian selalu berada di balik perang, begitu pun sebaliknya.“

„Lalu apa landasan aku untuk berbuat baik?“ Kang Deden terus menyerocos, „Karena aku tahu bahwa aku dan alam semesta adalah satu dan aku tak mau menyakiti diriku sendiri. Bila ada yang jahat, aku melihat bahwa itu diperlukan untuk sebuah keseimbangan. Meskipun aku terus berusaha berbuat kebaikan, aku tak kecewa bila yang jahat terus ada karena memang begitulah proses keseimbangan dunia. Bukan hanya manusia yang mengolah bumi, namun bumi mengolah manusia juga. Coba lihat bagaimana orang Indonesia terlihat begitu ramah dalam berelasi, namun begitu kurang berpengetahuan dalam science dibandingkan orang Eropa yang terlihat begitu dingin dan kaku dalam relasi, namun begitu memiliki pengetahuan lebih dalam science. Tentu hal ini disebabkan oleh alam. Indonesia sudah dimanjakan dengan iklim tropis sehingga kita lebih suka menghabiskan waktu di luar rumah untuk bercengkrama dengan sesama. Sementara Eropa diberkahi dengan 4 musim, di mana ketika musim dingin tiba, mereka lebih memilih diam di rumah untuk membaca buku. Orang Indonesia tak perlu bersusah payah bertahan hidup karena kekayaan alamnya, sementara orang Eropa harus berusaha berpikir bagaimana caranya bercocok tanam ketika salju turun. Di situlah kemudian mereka menemukan teknologi panel surya. Inilah keseimbangan dunia yang selalu berproses tanpa henti. Suatu kehidupan pun harus mengalami kematian untuk kehidupan yang lain. Jadi, apakah tujuan hidupku? Kata siapa segala sesuatu harus ada tujuannya? Aku hanya senang menjalani proses tanpa akhir keseimbangan alam semesta ini.“

Bang Hosim, Mas Paijo, dan Tohir tercengang mendengar argumentasi yang dilontarkan Kang Deden. Mereka bukanlah tercengang karena takjub ataupun kagum atas argumentasi itu, tapi terlebih karena tidak mengerti bacotan apa sebenarnya yang dilontarkan Kang Deden hingga kumis tebalnya pun basah terciprat liurnya sendiri. Dalam hening mereka pun melanjutkan isapan rokok dan seruputan kopi yang telah mendingin seakan sepakat bahwa hidup ini cukup dinikmati saja. Kebahagiaan bukanlah sesuatu di masa lampau, bukan pula sesuatu di masa depan. Ternyata kebahagiaan itu ada di saat ini ketika mereka mampu menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi yang terhidang. Mereka paham betul bahwa toleransi bukanlah ketika aku menyama-nyamakan pemikiranku dan pemikiranmu, karena itu hanya akan mengaburkan kebenaran yang kita yakini, namun toleransi adalah ketika aku dan kamu menyatakan pemikiran masing-masing dan tetap menghormatinya meskipun pemikiran itu saling bertentangan.

Lagian siapa sih yang berani mengklaim bahwa dia memahami Kebenaran seutuhnya?

 

Tannenbusch Mitte,

16 September 2016-09-16

11:27

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s