Kebenaran dan Perspektif

truetruthgraphic
https://btwndevilandsea.files.wordpress.com/2015/12/truetruthgraphic.jpg

Sebuah acara makan malam dihadiri oleh orang Jepang, orang Jerman, dan orang Indonesia. Melihat orang Jepang menggunakan sumpit untuk makan steak, datanglah orang Jerman kepadanya dan menunjukkan cara makan menggunakan pisau dan garpu. Kemudian menu berikutnya pun datang, yaitu mie ramen. Kini giliran orang Jepang mengajarkan si orang Jerman cara menggunakan sumpit. Ketika menu ketiga yaitu ikan mas berduri, kepiting, dan lalapan datang, mereka berdua bingung harus memakai pisau garpu atau sumpit. Orang Indonesia pun datang sebagai pahlawan dan menunjukkan bagaimana cara makan menggunakan tangan. Sambil tertawa dan bercanda, mereka menikmati proses makan itu hingga sama-sama mendapatkan perut yang kenyang.

Sesuai ilustrasi di atas, begitulah agama dan kepercayaan. Sama halnya dengan cara makan, agama pun diinterpretasikan sesuai tradisi, budaya, dan kebiasaan masing-masing individu. Meskipun terlihat berbeda dalam prosesnya, namun pada akhirnya hasil yang didapat adalah sama. Entah bagaimana cara kita makan, ujung-ujungnya perut kenyanglah yang kita dapat. Dalam beragama pun begitu, bagaimanapun cara kita beragama, hasil yang didapat bila kita benar-benar memahami agama sampai ke kedalaman ialah perbuatan baik/saling mengasihi dan sikap toleransi, diikuti oleh kedamaian, dan kebahagiaan. Itulah inti dalam beragama.

Terkadang kita terlalu sibuk mengurusi cara makan orang lain hingga kita lupa bersikap toleransi dan melakukan perbuatan baik/saling mengasihi. Seberapa yakinkah kita bahwa kita, entah dalam sains, entah dalam agama, benar-benar menemukan sebuah kebenaran? Ataukah jangan-jangan itu hanya perspektif (cara pandang) yang tidak mewakili kebenaran secara utuh? Video di bawah ini bisa membantu kita dalam memahami perspektif dan kebenaran.

Dalam video ditunjukkan perbandingan hewan dan manusia dalam melihat dunia. Ternyata, tiap-tiap spesies melihat dunia yang sama dengan cara yang berbeda. Seperti itulah kita dalam melihat dunia, sebenarnya kita hanya melihat realitas dari sudut pandang kita sendiri bukan realitas yang sebenarnya (Dinge an sich / Benda pada dirinya sendiri). Ketika anjing melihat darah, warna darah itu terlihat coklat/kuning/biru, namun sebagai manusia kita melihat darah berwarna merah, walaupun sebenarnya kita pun tidak akan tahu warna apa atau bagaimana bentuk darah itu dari perspektif darah itu sendiri. Kita tidak melihat darah sebagai darah pada dirinya sendiri, namun melihat darah dalam perspektif kita. Tiap kepercayaan pun merupakan sebuah perspektif yang menuju pada sebuah inti kebenaran. Namun justru perspektif-perspektif inilah yang selalu kita pusingkan dan perdebatkan, padahal tentu kita sepakat akan satu inti kebenaran yang mampu kita pahami, yaitu bahwa sikap toleransi dan perbuatan baik / saling mengasihilah yang mampu mendamaikan dan membahagiakan.

Aku termasuk dalam semua. Aku membutuhkan Islam yang mengajarkan sikap berserah dan bersyukur. Aku membutuhkan Kristiani yang mengajarkan cinta terhadap sesama dan harapan. Aku membutuhkan Ateis dan Agnostik yang mengajarkan cara melihat dunia secara rasional dan apa adanya. Aku membutuhkan Buddha yang mengajarkan fokus dalam ketenangan dengan mengistirahatkan segala pikiran. Aku membutuhkan pantheisme yang mengajarkan kesatuan dan keharmonisan dalam alam semesta. Semua itu aku butuhkan untuk memahami bahwa semua hal itu memang terlihat berbeda di permukaan namun mengarah pada satu tujuan di dalam kedalamannya, yaitu kedamaian dan kebahagiaan yang dihasilkan oleh sikap toleransi dan perbuatan saling mengasihi. Cukup sudah kita sibuk mengurusi hal-hal permukaan, namun saatnya kita langsung terjun pada intinya.

Bila iman pada Tuhan membuatmu semakin toleran dan saling mengasihi, peganglah iman itu. Bila tidak, lepaskanlah iman itu sebelum ia semakin menggerogoti kamu seperti virus mematikan yang membunuh sikap saling mengasihi dalam diri kamu. Bila pemikiran rasional dengan melihat dunia apa adanya membuatmu semakin toleran dan saling mengasihi, peganglah pemikiran itu. Bila tidak, lepaskanlah pemikiran itu karena ia justru akan membuatmu sombong dengan menerbangkan kamu hingga ke langit lalu menjatuhkan kamu hingga kamu lupa akan ketulusan dari sikap saling mengasihi. Peraturan pernikahan seagama yang heteroseksual berpotensi merusak hakikat cinta, peraturan keharusan beragama menjadi perusak identitas, peraturan pemimpin seagama merusak nilai kesetaraan, bahkan peraturan cara berperilaku, berpakaian, bertutur kata / sopan santun (etiket) dapat mengaburkan esensi moral (etika). Kemunafikan lebih dijunjung tinggi daripada keaslian diri. Sampai kapan kita mendewa-dewakan sebuah peraturan, sedangkan melupakan makna di balik peraturan itu?

Dan dalam diam aku pun merenung, apakah tulisanku ini sudah benar-benar dilandasi kasih dan toleransi? Bila tidak, akan kubuang tulisan ini lalu kembali kurajut ulang. Aku benar-benar menikmati semua proses ini. Kedamaian dan kebahagiaan sudah ada, aku hanya perlu menyadari dan menikmatinya.

 

Tannenbusch Mitte, 31.03.2016

14:18

Advertisements

2 thoughts on “Kebenaran dan Perspektif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s