Pilihan Hidup Josreng, Si Anak Geng

6110998_20140408012559
http://s.kaskus.id/images/2014/04/08/6110998_20140408012559.jpg

Pertempuran akan dimulai. Lapangan luas itu telah dipadati. Kedua geng yang saling berhadapan bersiap dengan senjata masing-masing. Ada yang membawa balok kayu, beling pecahan botol bir bintang, bahkan ada pula yang membawa pisau. Belasan orang lainnya bersiap mengambil batu di tanah untuk dilemparkan. Terlihat pula leader kedua belah pihak yang sama-sama membawa sebilah belati….

Josreng, itulah nama yang dikenal. Nama julukan semenjak ia bergabung dengan Brigez.

Josreng mengenang kembali saat-saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di SMAN 7 Bandung. Ia sudah mengetahui bahwa dari sekolah itulah terbentuk  satu geng motor ternama yang disebut Brigez, singkatan dari Brigadir Seven. Bahkan karena alasan itulah ia berniat melanjutkan pendidikannya di sana. Bagaimana tidak? Sudah lama ia mendambakan adanya pengakuan. Pengakuan dari mereka, mereka yang disebut teman. Bukan hanya itu, siapa pula yang tidak tertarik dengan kekuasaan dan ketenaran? Mungkin bila ia menjadi anggota Brigez semua itu mudah untuk didapatkan.

Sejak di bangku SD, ia dikenal sebagai anak kurang pergaulan dan culun punya atau “kuper” dan “cupu”, itulah singkatan gaulnya. Bukan karena ia selalu belajar dan tidak ada waktu bermain sehingga ia menjadi seperti itu. Namun lebih karena sikapnya yang terlalu lembek sehingga ia selalu dipermainkan.

Memang, istilah kuper dan cupu untuk dirinya tidak terlalu diperdulikannya saat itu. Namun, ketika SMP dua istilah yang ia pun tidak tahu siapa yang menciptakannya itu mulai mengganggu kehidupannya. Ia mulai menyadari bahwa ia tidak memiliki seorang teman pun. Ketika melihat cewek yang ditaksirnya, ia pun bingung harus melakukan apa. Bukan bingung karena salah tingkah, namun bingung bagaimana cara ia minimal dapat berkenalan dengannya. Siapa sih orang yang mau berkenalan dengan orang tidak keren, tidak terkenal, tidak punya teman, dan tidak ada kekuasaan di sekolah? Predikat kuper dan cupu yang melekat pada dirinya membuatnya benar-benar tidak memiliki kekuasaan. Ia selalu dikata-katai, diejek, dan disiksa oleh teman-temannya. Mau membalas? Tidak ada gunanya, tidak ada yang mendukung. Malah ia akan diperlakukan semakin kasar. Pasrah saja, itulah pedoman hidupnya dari dulu hingga ia menyelesaikan SMP.

Di SMAN 7 inilah ia mau merubah takdir hidupnya. Tidak akan ada yang berani mempermainkannya lagi bila ia masuk menjadi anggota geng. Bahkan tanpa dicari pun teman-teman akan datang sendiri kepadanya. “Asalkan ada teman, cewek menjadi urusan gampang. Aku akan terlihat keren”, itulah yang ada dalam benaknya.

Eh, ternyata benar. Tidak ada yang meleset. Semenjak Josreng merubah sikapnya menjadi pemberani  dan tidak takut pada apapun, ia dapatkan kekuasaan dan ketenaran. Ia menjadi orang pertama di Brigez yang berani menantang guru bertengkar, melempar petasan ke jendela kelas sekolah lain, menghajar dan memalak anak sekolah lain sendirian, bahkan menyimpan pistol. Hal itu keren dan berani, itulah yang dikatakan teman-temannya. Karena hal itu pulalah ia diangkat menjadi leader Brigez dan menyebabkan perang antara Brigez dan XTC. Inilah Josreng, tidak ada lagi Joni Hendranto yang lemah dan pengecut.

————————

“Kadieu sia!!! Tong loba bacot!!” (“Ke sini kamu!! Jangan banyak omong!”)

“Sia nu loba bacot,, ku urang paehan maneh!!” (“Kamu yang banyak omong, saya bunuh kamu!!”)

Kata-kata Sunda kasar yang mengundang emosi kedua belah pihak terlontar. Leader kedua belah pihak memerintahkan untuk menyerang lawan di hadapan mereka. Namun, belum sempat mereka melontarkan satu pukulan pun, sirene polisi berbunyi. Puluhan remaja SMA itu berlarian kalang kabut. Ada yang melompati pagar tanaman, ada yang membawa motornya dengan tergesa-gesa, ada pula yang berlari tanpa arah, yang penting bisa kabur. Leader XTC pun sampai terjatuh karena saking tergesa-gesanya.

Josreng masih tetap di sana, berdiri kokoh sendirian di tengah lapangan. Benaknya mulai berpikir.

Satu sirine polisi saja telah berhasil membubarkan puluhan remaja anggota geng… Tentulah kekuasaan polisi sangat tinggi… Hmm,, keren juga…

Polisi mulai mendekati Josreng ke tengah lapangan sambil menodongkan pistolnya.

Tapi tunggu, bagaimana dengan para pelaku KKN? Kekuasaan mereka kan lebih tinggi dan luas…. Lagian mereka tetap dihormati dan disegani…. Malah kehidupannya nyaman dan bergelimpangan harta….

Polisi itu semakin dekat pada Josreng. Mempersiapkan borgol untuk membekuknya.

Ya, inilah pilihan hidupku…..  

Josreng dengan gagah berjalan tersenyum meninggalkan lapangan itu,,, meninggalkan polisi yang juga tersenyum di tengah lapangan.

Bahkan polisi pun dapat aku kuasai….

—————

“Anakku bisa mendapat sepatu baru nih,” gumam si polisi sambil menghitung uang dua puluhan ribu rupiah.

 

13 September 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s