Inti di Balik Semua Hal Ternyata Sama

snow_snowflake_winter_73812_3840x2160
https://wallpaperscraft.com/download/snow_snowflake_winter_73812/3840×2160#

Suatu ketika tiga orang baik yang suka membantu orang lain ditanya mengenai keberadaaan Tuhan. Si penanya bertanya, “Apakah Tuhan itu ada?” Orang pertama yang Theis mejawab, “Tuhan itu ada.” Orang kedua yang Atheis menjawab, “Tuhan itu tidak ada.” Orang ketiga yang tidak ingin melabeli dirinya dengan konsep ataupun identitas apapun menjawab, “Saya tidak tahu apakah Tuhan itu ada atau tidak dan hal itu tidaklah sepenting itu.” Kemudian si penanya melanjutkan pertanyaannya, “Dengan didasari pada jawaban kalian yang berbeda-beda itu, apa yang sekarang hendak kalian lakukan?” Ketiganya serentak menjawab, “Saya akan terus berbuat baik untuk menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan.” Ketiganya mempunyai jawaban yang sama.

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa pertanyaan pertama tentang keberadaan Tuhan sangatlah tidak relevan. Pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep-konsep kebenaran yang tidak mewakili Kebenaran seutuhnya hanyalah berada di permukaan. Sedangkan pertanyaan lanjutan tentang apa yang hendak dilakukan, itulah yang relevan dan langsung menuju kedalaman. Ternyata pada akhirnya semua pun mencapai ujung yang sama dan tak terbantahkan, yaitu perbuatan kasih yang mendamaikan.

Berikut ini penulis paparkan beberapa pemikiran yang ternyata bila diselidiki polanya, akhirnya menuju makna yang sama di kedalamannya. Kedalaman ini meskipun dibahasakan secara berbeda, memiliki makna inti yang sama. Orang sering menyebutnya sebagai Ketidaktahuan yang melampaui pengetahuan dunia / Pencerahan / Kekosongan / “Tidak Tahu” yang sebenarnya penuh / Kebenaran,Kedamaian, Kebahagiaan Sejati / Inti segala hal / Tuhan / Surga. Semua itu hanyalah sebutan dan sebenarnya tidak mampu dideskripsikan.

Ketidaktahuan ini adalah sebuah persatuan mistik dengan Inti dari semua hal yang hanya dapat dialami. Penjelasan akan pengalaman itu tidak mampu mendeskripsikan pengalaman itu secara utuh karena terbatas oleh bahasa dan kemampuan penggunaan nalar manusia. Orang yang berada di titik ini biasanya menjalani hidupnya seperti biasa dalam kebijaksanaan. Ia berada dalam kontemplasi penuh (perhatian/perenungan penuh akan satu hal). Ia tidak lagi dipusingkan dengan konsep-konsep. Ia tidak lagi tertarik dengan pembuktian akan sesuatu karena ia tahu bahwa perdebatan itu masih berkutat di konsep yang tak mewakili kebenaran. Ia melihat dunia secara apa adanya dan hidup untuk membantu orang lain dalam pengamalan kasih. Sesuatu dari luar dirinya tak lagi mempengaruhi Kedamaian dan Kebahagiaan Sejati dirinya yang telah dan selalu ia rasakan.

  1. Aposteriori Atheis : Dari Tidak tahu ke Pengetahuan dunia 100% menuju Melampaui Pengetahuan

Orang atheis lahir dengan ketidaktahuan akan apapun. Dia tidak percaya akan pengetahuan apriori, yaitu pengetahuan yang telah diberikan Tuhan sebelum ia lahir ke dunia. Orang ateis meyakini bahwa ia mendapatkan pengetahuan secara berkesinambungan setelah lahir di dunia (aposteriori) melalui pencerapan indera dan aktivitas otaknya yang melakukan pemikiran diskursif, yaitu kemampuannya menggunakan nalar yang logis dan sering pula bertentangan (tesis-antitesis). Ketika ia mencapai pengetahuan 100% dunia dan ia merasa tahu akan semua hal di dunia, ternyata ia malah jatuh ke dalam kehampaan makna hidup. Hal itu belum mendamaikan dirinya.

Ia pun berusaha melampaui pengetahuan dunia itu dan sampai pada tahap menyadari bahwa ia tidak tahu apa-apa (sintesis dari pemikiran tesis-antitesis). Ketidaktahuan ini adalah ketidaktahuan setelah pengetahuan dunia, bukan ketidaktahuan sebelum pengetahuan dunia. Ia tidak tahu bukan karena ia tidak paham, namun ia justru mengalami suatu hal yang tak mungkin bisa dideskripsikan dengan apapun di dunia karena hal itu berada di atas pengetahuan dunia. Sesuatu yang berada di atas pengetahuan dunia tentu sulit dan tak mampu dideskripsikan oleh pengetahuan bahasa manusia. Justru inilah pengetahuan sebenarnya yang mewakili Kebenaran Sejati. Kebenaran Sejati tak mungkin bisa kita deskripsikan dan bahasakan, namun dapat kita alami. Itulah yang disadari oleh Sokrates yang dengan bijak mengatakan bahwa ia tidak tahu.

Nietzsche pernah menyadari hal ini. Ia menggambarkan perjalanan hidup manusia yang pada awalnya bagai “unta berpunuk”, yaitu manusia yang tidak bebas dibebani oleh aturan-aturan dan nilai-nilai yang harus ia taati tanpa paham apa makna di baliknya. Kemudian manusia bertransformasi menjadi “singa”. Di sini manusia memiliki kemampuan untuk menentukan nilai-nilai karena ia telah paham sepenuhnya. Namun, dapat dilihat bahwa sebagai sesosok singa, manusia dapat jatuh pada kesombongan dan kesewenang-wenangan. Dan pada akhirnya manusia bertransformasi kembali menjadi “Bayi”. Bayi ini adalah bayi polos yang terbebas dari apapun dan hidup secara alami dan spontan. Bayi ini mudah kagum dan menikmati segala hal yang terlihat biasa saja. Ia pun menjadi peka akan segala hal dan melakukan satu hal dengan kesadaran penuh. Tak ada lagi kecemasan, ketakutan, keinginan yang membebani. Tahap Pencerahan ataupun Kedamaian Sejati diwakili oleh penggambaran bayi.

  1. Apriori Theis : Dari Teologi Afirmatif dan Negatif menuju Agnosia / tidak tahu (totale Stille / ketenangan total)

Orang Theis mempercayai bahwa Tuhan telah memberikan pengetahuan sebelum kita lahir (apriori). Tuhan pun telah memanifestasikan/menunjukkan diriNya melalui firman-firman di dalam Kitab Suci. Dalam Teologi Afirmatif kita menerima pemanifestasian Tuhan ini: Tuhan adalah Cinta. Tuhan adalah Terang, dst. Saat kita berkata Tuhan adalah Terang, pada saat yang sama, Tuhan bukanlah sekedar Terang karena Dia pasti jauh lebih dari sekedar Terang. Di sinilah diperlukan Teologi Negatif: Tuhan bukanlah Terang. Tuhan bukanlah Cinta, dst. Namun kedua jenis Teologi ini tentulah tidak cukup, karena tentu akan ada penjabaran tanpa akhir mengenai siapa itu Tuhan. Tuhan akan selalu memiliki sisi misteri. Di titik kesadaran inilah orang akan menuju Agnosia (tidak tahu), dimana ia mengalami persatuan mistik dengan Tuhan. Penjelasan mengenai Agnosia ini sama persis dengan penjelasan mengenai Ketidaktahuan / Pencerahan/ melampaui pengetahuan yang telah dipaparkan di atas.

Thomas Aquinas, seorang filsuf dan teolog yang sangat berpengaruh dalam dunia Kekristenan pernah menulis banyak hal. Salah satunya bahkan ia mampu membuktikan keberadaan Tuhan. Pemikiran-pemikirannya pun masih sangat mempengaruhi Gereja zaman ini. Namun, suatu saat ia berhenti menulis di tengah penulisan buku mengenai ajaran-ajaran Gereja. Saat diminta menulis kembali, ia mengatakan bahwa ia tak lagi berhasrat menulis dan mengatakan bahwa tulisannya hanyalah tumpukan jerami. Saat ditanya lebih jauh, ia menjelaskan bahwa dalam sebuah ibadat/misa ia telah mengalami persatuan mistik dengan Tuhan dan telah ditunjukkan semuanya. Pada tahap ini, Thomas Aquinas memahami bahwa semua yang dia tuliskan sudah cukup. Ia tidak membantah tulisan yang telah dia tuliskan, namun tidak pula meneruskannya. Banyak hal yang menjadi “tidaklah sepenting itu” ketika seseorang mengalami Pencerahan.

Pengalaman Thomas Aquinas ini sama halnya dengan Zen Master yang tidak banyak lagi menulis sebuah analisis, namun lebih menggambarkan semua sebagai “apa adanya” dalam puisi ataupun lukisan.

  1. Alkitab Kristen

Karena penulis membaca Alkitab, tidak ada salahnya bila kita melihat pula apa yang tertulis di Alkitab. Yesus sebagai seseorang yang telah memahami makna di balik segala konsep pun mengajar menggunakan perumpamaan-perumpamaan, juga konsep Kasih yang terbuka untuk penginterpretasian. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang mampu menemukan pengalaman langsung dengan Inti sesuai prosesnya masing-masing yang tentu akan berbeda.

Dalam Perjanjian Lama, manusia diberikan berbagai aturan-aturan. Namun Yesus dalam Perjanjian Baru melampaui peraturan itu ketika Ia melanggar peraturan Hari Sabat dengan menyembuhkan orang, di mana seharusnya pada hari itu orang-orang dilarang beraktivitas dengan alasan hari khusus untuk Tuhan. Yesus mampu melampaui aturan-aturan itu karena Ia telah paham makna di balik semua itu adalah Kasih. Peraturan-peraturan/konsep-konsep dapat kita langgar, lampaui, dan tak lagi relevan saat kita mencapai sebuah Pencerahan. Kita pun dididik begitu oleh orang tua saat kita dilarang pulang lebih dari jam 6 sore ketika masih anak-anak. Namun saat dewasa, aturan itu tak lagi relevan karena kita sudah memahami apa makna di balik aturan itu.

Dalam Matius 18:3 Yesus berkata bahwa manusia harus menjadi seperti anak kecil agar dapat masuk Kerajaan Surga. Penjelasan akan hal ini sama dengan perumpamaan bayi Nietzsche. Begitu pula dalam 1 Korintus 2:9, Paulus menjelaskan mengenai Surga, yaitu apa yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah timbul di dalam hati manusia. Di sini Paulus menunjukkan bahwa kita harus melampaui semua konsep untuk mengalami Surga itu.

Kesimpulan

Sebagai akhir, penulis tidak ingin melabeli dirinya dengan konsep apapun. Memang, tidak ada ada manusia yang terlepas dari dogma-dogma / konsep-konsep. Ada dogma freethinker, ada dogma konservatif agama, ada dogma semua itu relatif dan tak pasti. Namun, apakah Kejernihan / Kebijaksanaan itu? Ketika kita menyadari bahwa inti semua adalah berbuat kasih. Asal kita tetap saling mengasihi, kita akan menyadari bahwa semua konsep “tidaklah sepenting itu” untuk diperdebatkan bila ujung-ujungnya menyimpan dan mengakibatkan kebencian. Dalam kesadaran ini, kita akan melakukan suatu hal yang tepat pada saat yang tepat pula.

Aku adalah Aku. Aku adalah Semua. Semua adalah Aku. Penulis tidak lagi melihat sebuah perbedaan sebagai suatu pertentangan, namun lebih melihat semua hal sebagai proses unik tiap pribadi yang saling melengkapi. Agama, tradisi, budaya, dan konsep-konsep bukanlah sesuatu yang harus dipegang erat, namun bukan pula suatu hambatan dalam menemukan Inti bila kita tidak terjebak dan hanya berkutat di permukaan. Setidaknya hal-hal itu berguna di dalam prosesnya, meski kemudian harus dilampaui, sebagaimana perang itu ada agar kita memahami makna sebenarnya apa itu kedamaian. Dan pada akhirnya kita akan berada di titik yang sama, asal kita mau berusaha menuju ke kedalaman dengan tetap terbuka pada segala kemungkinan yang ada dan tetap selalu mengamalkan kasih.

Bonn, 24 Jan 2016

17:17

Advertisements

3 thoughts on “Inti di Balik Semua Hal Ternyata Sama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s