Kesadaran Untuk Menyetubuhi Tuhan

nature_bond-wide
http://www.hdwallpapers.in/walls/nature_bond-wide.jpg

Di Indonesia kita dipaksa untuk “memeluk” sebuah agama resmi. Padahal hidup merupakan sebuah proses tanpa henti. Tidak ada ujung dalam pencarian Kebenaran atau Tuhan atau Spiritualitas Inti. Perubahan pola pikir mewarnai selalu. Satu yang ingin dicapai, yaitu Kebahagiaan dan Kedamaian Sejati.

Saat kita tidak lagi hanya sekedar sibuk di permukaan dengan “memeluk” agama, namun masuk lebih dalam lagi dengan “menyetubuhi” Tuhan, di situlah kita paham bahwa inti dari semuanya adalah persatuan mistik dalam Tuhan. Persetubuhan dengan Tuhan yang berarti persatuan mistik dalam Tuhan ini termanifestasi dalam tindakan kasih.

Mulai dari Permukaan dan perlahan masuk ke Kedalaman

Persatuan mistik dalam Tuhan sebenarnya tidak mungkin bisa didefinisikan. Pendeskripsian akan apa itu Tuhan sering mengaburkan kita untuk menyelami dan mengalami pengalaman langsung bersamaNya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kita pasti disibukkan dengan pikiran-pikiran yang menghasilkan konsep-konsep karena kita mempunyai otak yang berpikir.

Kita memang lebih sering terjebak di permukaan. Kita lebih peduli dengan perdebatan-perdebatan konsep, entah itu konsep kebenaran ataupun konsep moral, yang sebenarnya tidak menyentuh Spiritualitas Inti sama sekali karena sudah pasti dibatasi oleh konsep bahasa kita dan dunia fisik. Pertandingan konsep merajalela, kita lupa bahwa konsep tidak mewakili kenyataan secara keseluruhan. Yang terjadi kemudian adalah sebuah kesombongan, di mana kita mulai merasa memegang sebuah kebenaran dan mulai merendahkan orang lain. Pemikiran rumit, penuh analisis, dan ketidakspontanan akan semakin mewarnai hidup kita. Kita menjadi penuh pertimbangan ketika ingin melakukan sesuatu, di mana hal ini berujung pada ketidakmampuan berbuat.

Semua konsep-konsep (entah itu filsafat, agama, moral, ideologi, ekonomi, politik, pengetahuan alam) sudah seharusnya dilampaui setelah kita melaluinya terlebih dahulu. Singkatnya konsep-konsep itu berguna untuk dipelajari dan kemudian dilepas, lalu dilampaui. Spiritualitas Inti / persatuan mistik dalam Tuhan / pencapaian Kedamaian Sejati hanya bisa kita alami secara langsung tanpa pendeskripsian apapun.

Saat kita mulai mengerti dan menjalani secara sederhana apa yang biasa disebut dengan Kasih, disitulah Kebahagiaan Sejati berada. Di kedalaman inilah kita tidak lagi memperdebatkan hal-hal permukaan, namun hidup alami dengan menyebarkan Kasih. Perbedaan-perbedaan mengenai apapun tidak lagi penting dan menganggu diri kita dalam penyebaran Kasih karena kita tahu bahwa perbedaan itu sebenarnya tidak ada. Sebuah penilaian tidak lagi mewakili apapun. Pembuktian mengenai apapun tidak menjadi prioritas utama. Rasa ingin tahu yang selalu menyembunyikan kecemasan di dalamnya pun lenyap. Semua menjadi „tidaklah sepenting itu“. Memang pada dasarnya tindakan kasih itu selalu sederhana, bebas, alami, dan membahagiakan. Kasih tidak mampu terdefinisikan, namun hanya dapat dialami secara langsung.

„Aku memang tidak tahu apa-apa, namun aku mengalami apa itu Kasih“

Bonn, 13.01.2016, 00:30

Advertisements

4 thoughts on “Kesadaran Untuk Menyetubuhi Tuhan

  1. Salam damai pak.
    tulisan yang menarik pak.
    tapi dari penjelasan bapak juga masih terjebak dalam konsep Kasih yang bapak sedikit jelaskan itu.
    Menurut saya, pada kenyataannya adalah Konsep Tuhan itu muncul karena manusia sadar akan eksistensinya yang terbatas, sehingga manusia mengidealkan sosok tak terbatas yang membatasi keterbatasan manusia itu sendiri. Tuhan hanyalah konsep yang ada di dalam pikiran kita. Tuhan tak memiliki eksistensinya diluar pikiran kita.

    Like

    1. Coba baca ini: https://penjaringangin.wordpress.com/2016/01/24/inti-di-balik-semua-hal-ternyata-sama/

      Terima kasih komentarnya. Saya setuju bahwa kasih ga bisa direduksikan menjadi hukum moral yang terbatas. Memang kalau kita melihat keseluruhan, bahkan tindakan “kasih” atau tindakan “tidak kasih” bernilai sama/tidaklah berbeda, sebagaimana “baik” dan “buruk” dibutuhkan ada sesuai porsinya. Tapi, tindakan kasihlah satu-satunya yang paling logis di antara konsep2 lain untuk diimplementasikan di kehidupan ini yang tidak mungkin terlepas dari konsep2.

      Konsep Tuhan tingkatannya berada di bawah tindakan kasih, bila tak mencerminkan kasih. Menurut saya, tak ada bedanya Tuhan dan Kasih. Ia mendamaikan di dalam dan juga ke luar. Entah manusia mau mengimajinasikan Tuhan yang bagaimana atau meyakini ketidakeksisan Tuhan, pernyataan itu menjadi “tidaklah sepenting itu” selama ia tetap mengamalkan Kasih.

      Like

  2. Saya setuju untuk penjelasan dari bapak, dan terima kasih telah memberikan referensinya juga.
    Memang benar kita hidup tidak akan pernah lepas dari jebakan konsep yang diciptakan oleh pikiran manusia, karena memang manusia senang sekali untuk mengabstraksikan keadaan yang ia alami agar bisa lebih mudah dalam memahaminya.
    Terima kasih atas pelajarannya.
    Salam Damai.

    Like

    1. Kita semua selalu dalam proses pembelajaran bro hehe. Ya benar, memang sulit bagi manusia untuk tidak membahasakan. Bahkan manusia bilang bahwa Tuhan marah, Tuhan berencana, Tuhan sedih, Tuhan senang, meskipun bila memang hakikat Tuhan itu ada, tentu Tuhan tidak mungkin memiliki kehendak yang berubah-ubah. Keabadian tidak terikat ruang-waktu, sedangkan suatu pergerakan/kehendak berada dalam konteks ruang-waktu. Tapi menurut saya pembahasaan itu sah2 saja selama kita tetap hidup damai konsep2 tersebut. Salam damai juga.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s