Candu Motivasi

blacksmith_anvil_art_hammer_sword_fire_100299_1920x1080
https://wallpaperscraft.com/download/blacksmith_anvil_art_hammer_sword_fire_100299/1920×1080#

Ketidakpastian di dunia, di mana realitas berseberangan dengan apa yang kita harapkan selalu menimbulkan kekecewaan, kesedihan, dan penderitaan di hati kita. Ketidakbahagiaan di hati ini membawa kita masuk ke dalam penderitaan dan keputusasaan dalam hidup. Hidup kita menjadi semakin pesimis dalam menghadapi segala hal. Kita tidak lagi berusaha untuk merubah hidup kita ke arah yang lebih baik, melainkan hanya berpasrah saja, merasa bahwa semua penderitaan dan kegagalan yang terjadi adalah takdir yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Di tengah kepesimisan manusia inilah muncul berbagai obat mujarab, yang diharapkan mampu merubah pola pikir pesimis kita. Di sinilah muncul motivator-motivator seperti Anthony Robbin, Tung Desem Waringin, maupun Mario Teguh. Muncul pula buku best seller panduan berpikir positif seperti *The Secret. Agama pun dijadikan obat penenang dan harapan bagi manusia-manusia yang putus asa.

Obat Instan Motivasi

Adakah yang salah dari semua ini? Seperti obat pada umumnya, kesembuhan bisa diperoleh dengan dosis yang sesuai. Namun sayangnya, masyarakat pesimis modern ini selalu menyukai hal instan yang terfokus pada hasil sementara dan tidak menyukai sebuah proses yang mampu memberikan hasil permanen. Obat motivator pun dipakai sebagai penyembuh luka instan setiap saat hingga overdosis dan malah merusak. Hari ini merasa sedikit patah hati karena cinta ataupun kurangnya motivasi belajar, langsung menonton Mario Teguh “Golden Ways”. Besok merasakan hal yang sama, langsung membaca The Secret, berharap alam  semesta menyediakan hal-hal yang kita inginkan. Dan lusanya merasakan hal yang sama, langsung mencari tokoh-tokoh penceramah yang hanya menunjukkan Tuhan sebagai Maha Pemberi, yang memberikan semua yang kita inginkan (bukan hanya kita butuhkan), asalkan kita sekedar percaya. Proses di mana di dalamnya ada usaha benar-benar dilupakan.

Suatu ketika orang pesimis-pemalas berkata , “Aku sekarang sudah optimis nih setelah menonton motivasi itu. Aku yakin lulus ujian. Aku positif! Aku pasti bisa! .“ Besoknya dalam kemalasan dia berkata lagi tanpa ditanya, „ Aku positif! Aku pasti bisa!“ Lusanya hal yang sama terjadi, dia kembali menghibur dirinya „Aku positif! Aku pasti bisa!“ Ia terus memotivasi dirinya dengan pikiran positif tanpa membuat dirinya menjadi rajin dan akhirnya gagal ujian.

Ia bukanlah orang positif karena orang positif cukup yakin dengan dirinya dan hanya perlu sekali berkata „Aku positif! Aku pasti bisa!“ . Namun ia yang merupakan orang pesimis yang mempositif-positifkan dirinya akan terus berslogan „Aku positif! Aku pasti bisa!“ setiap saat hanya untuk menghibur dirinya. Hal itu malah menunjukkan kepesimisan dan ketidakyakinannya. Ia kehilangan sikap realistis karena kecanduan obat motivasi instan.

Apa yang realistis?

Lalu bagaimanakah realistis itu? Kenyataan di dunia menunjukkan bahwa perang selalu terjadi, kelaparan masih menyelimuti, situasi politik justru memakan satu sama lain, dan orang yang dianggap sukses dan kaya ternyata hanya 1% dari populasi dunia. Bila kita realistis, bukankah berarti wajar kita bersikap realistis pesimis? Data menunjukkan bahwa hanya orang beruntung yang ternyata cuma minoritas populasilah yang memegang kendali dunia. Albert Einstein, Stephen Hawking, Bill Gates, Leonardo Da Vinci, Habibie, Leibniz, Goethe, dan bahkan Hitler terlahir dengan IQ di atas 160, di dalam takaran jenius. Dan merekalah tokoh-tokoh penting perubahan dunia. Bukankah wajar bersikap bahwa hidup kita akan biasa-biasa saja karena ber IQ normal seperti mayoritas orang pada umumnya? Jadi wajar saja bersikap realistis pesimis, di mana kita yakin kita adalah orang biasa-biasa saja dan tidak mampu menjadi agen perubahan dunia ke arah yang lebih baik.

Sayangnya banyak orang yang akhirnya jatuh ke dalam pola pikir realistis pesimis ini. Mereka kembali ke keadaan awal, di mana mereka berpasrah saja terhadap takdir dan mengganggap tidak ada sesuatu yang bisa diperjuangkan. Namun sikap ini sebenarnya hanyalah alasan orang pesimis semata yang merasa bahwa dirinya realistis dan malah melupakan realita sebaliknya. Fakta menunjukkan bahwa orang-orang yang dianggap sukses adalah orang-orang yang bukan hanya terlahir jenius, namun mempunyai integritas dalam hidupnya. Mereka adalah orang-orang berkomitmen dan tidak mudah putus asa dalam meraih sesuatu. Atau bisa dibilang mereka adalah orang yang mau berproses. Fakta pun menunjukkan bahwa manusia memiliki otak yang hebat, di mana kinerja otak akan terus meningkat seiring manusia mengasahnya. Pada kesadaran inilah obat motivasi (agama, buku, seminar, dll.) itu berguna, di mana kita menggunakannya sebagai peringan beban di saat kita menghadapi proses yang terlihat sulit. Di sinilah obat motivasi mampu membantu kita semakin menikmati proses pengembangan diri. Dan inilah realita sebenarnya. Kita tidak akan pernah menjadi pribadi lebih baik bila kita tidak mau berproses.

Jadi stop menggunakan obat motivasi secara overdosis dan mulailah menatap realita dunia dengan lebih tegar! Beranikah kita menjadi orang yang realistis positif?

*The Secret = buku Best Seller karya Rondha Byrne. Dipaparkan bahwa alam semesta yang akan memberikan hal positif bila kita berpikir positif, sesuai hukum tarik-menarik.

Bonn, November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s